teater Tokoh Wacana

Menengok Tadashi Suzuki (1)

oleh Alexander GB

Model pemanggungan teater terus mengalami perkembangan, baik definisi, cara penghadiran, termasuk fungsi atau peran aktor dan penontonnya. Perbedaan cara penghadiran ini berkaitan model pendekatan dan motode latihan keaktoran pada akhirnya. Tuntutan aktor di masa pra-realisme berbeda dengan realisme dan berbeda juga dengan post-realisme. Namun selalu ada tuntutan atau kebutuhan kualitas atau kemampuan tertentu yang harus dipenuhi setiap aktor tersebut, apa pun genrenya.

Beberapa tokoh teater mencoba merumuskan cara-cara menjadi aktor yang tepat, yang sistematis, yang dapat dipelajari dan dipraktikkan oleh pelaku teater di seluruh dunia. Tujuannya adalah melahirkan aktor-aktor yang siap memenuhi tantangan pemeranan dan terutama adalah menyukseskan pertunjukan. Rumusan cara menjadi aktor ini sederhananya disebut metode akting. Kemudian kita mengenal sejumlah tokoh yang telah merumuskan pemikirannya tersebut, diantaranya Stanislavski (Rusia-Realisme), Meyerhold (Rusia), Jerzy Grotowski (Polandia), dari Jepang kita mengenal Tadashi Suzuki, termasuk Tatsumi Hijikata dan Kazuo Ohno metode Butoh (Performance Art).

Tadashi Suzuki dianggap salah satu tokoh teater paling berpengaruh di dunia saat ini. Metodenya dipelajari pelaku teater dari berbagai negara. Ia menelurkan metode dan prinsip kerja yang harapannya dapat meningkatkan kualitas kesadaran aktor terhadap tubuhnya, terutama pusatnya. Metode Suzuki diilhami Kabuki, Noh, dan filosofi teater Yunani klasik. Salah satu tujuan metode ini adalah aktor menjadi lebih sadar akan perangkat ekspresinya yang alami dan mampu menghadirkan totalitas akting di panggung.

Menurut Suzuki, masyarakat yang berbudaya ditentukan oleh perseptif dan ekspresif orang-orangnya dalam mengakses animal energi bawaan mereka. Animal energi seperti itu menumbuhkan rasa aman dan percaya, energi yang dibutuhkan untuk komunikasi yang sehat dalam hubungan manusia dan masyarakat (penonton). Kita menyebutnya komunikasi yang organik. Istilah yang lazim kita dengar berkaitan dengan intuisi dan spontanitas lawan dari segala yang mekanik. Sesuatu yang bertolak belakang dengan pandangan masyarakat modern yang bergantung pada energi non-hewan agar lebih beradab. Suzuki menegaskan, masyarakat beradab belum tentu berbudaya.

Jika kita menganggap asal-usul peradaban, kita dapat melihat bahwa kenaikannya secara intrinsik terkait dengan fungsi tubuh. Perkembangannya bahkan bisa diartikan sebagai ekspansi sensorik bertahap dari mata, telinga, hidung, lidah dan kulit. Penemuan seperti teleskop dan mikroskop, misalnya, muncul dari aspirasi manusia dan berusaha untuk melihat lebih banyak, membuat radikalisasi penglihatan. Seiring waktu, akumulasi pencapaian semacam itu kemudian disebut peradaban.

Akibatnya, ketika kita menganalisis jenis energi yang dibutuhkan untuk mewujudkan aspirasi semacam itu, isu modernisasi pasti muncul. Faktanya, kriteria yang oleh beberapa sosiolog di Amerika Serikat untuk membedakan modernisasi dari masyarakat pra-modern adalah rasio energi hewan terhadap non-hewan yang digunakan dalam proses produksi. Animal energi di sini mengacu pada energi fisik organik yang dipasok oleh manusia, kuda, sapi dan sejenisnya; Sementara energi non-hewani lagi mengacu pada listrik, minyak bumi, tenaga nuklir, dan sebagainya. Menurut teori tersebut, salah satu cara untuk menentukan tingkat modernisasi suatu negara adalah menghitung jumlah energi non-hewan yang dikonsumsinya. Di banyak negara di Timur Dekat dan Afrika, misalnya, jumlah energi non-hewani yang dikonsumsi sangat rendah dibandingkan dengan negara-negara seperti Amerika Serikat dan Jepang, di mana energi non-hewan mendominasi sebagian besar proses produksi.

Jika kita menerapkan kriteria ini ke teater, kita melihat bahwa sebagian besar produksi panggung kontemporer dimodernisasi dan sangat bergantung pada energi non-hewani. Tenaga listrik penerangan, peralatan suara, lift panggung dan turntable; sedangkan gedung teater itu sendiri merupakan produk akhir dari berbagai kegiatan industri yang digerakkan oleh energi non-hewani, mulai dari peletakan pondasi beton sampai penciptaan alat peraga dan lanskap.

Seni-seni tradisi, seperti Noh Jepang misalnya, di sisi lain, bertahan sebagai bentuk teater pra-modern yang menggunakan hampir tidak ada energi non-hewani. Dalam kasus musik, misalnya, kebanyakan teater modern menggunakan peralatan digital untuk mereproduksi secara elektronik suara pra-rekaman atau live melalui amplifier dan pengeras suara, sedangkan di Noh, suara aktor utama dan paduan suara, serta suara dari instrumen yang diputar di atas panggung diproyeksikan langsung ke penonton. Kostum dan topeng Noh dibuat dengan tangan, dan panggung itu sendiri dibangun sesuai dengan teknik pertukangan pra-modern. Meskipun lampu listrik sekarang menerangi panggung Noh, ini dijaga seminimal mungkin dan tidak pernah menyerupai desain lampu modern yang rumit dan multiwarna. Intinya, Noh dirasuki oleh semangat untuk menciptakan sesuatu yang murni dari kemampuan dan usaha manusia-sedemikian rupa sehingga bisa dianggap sebagai lambang teater pra-modern. Ini adalah usaha yang digerakkan oleh energi hewani.

Di Eropa dan Jepang, teater telah berkembang seiring dengan waktu dan dengan demikian, dalam upaya meningkatkan daya tarik penonton, telah menggunakan energi non-hewan di hampir semua segi produksi. Paradoksnya, pergeseran energi non-hewan ini telah menyebabkan kerusakan pada bentuk seni. Sama seperti kemampuan alami mata untuk melihat telah berkurang melalui penemuan dan penggunaan mikroskop, dan lain-lain, modernisasi telah memisahkan organ alami kita dari diri kita yang esensial, mempercayakan porsi beban kerja yang semakin besar ke energi non-hewani. Mobil menggantikan tindakan berjalan. Komputer mengambil tempat untuk melihat dan mendengar (menyimak) secara langsung. Sebenarnya, semua inovasi yang diciptakan demi kemajuan peradaban adalah hasil material dari upaya meminimalisir penggunaan energi hewani. Sebagai konsekuensinya, potensi tubuh manusia dan berbagai fungsinya telah mengalami perampingan dramatis, memperlemah komunikasi antara orang-orang yang berbasis animal energi. Tren inilah yang menurut Suzuki mengurangi kemampuan ekspresif aktor-performer di atas panggung.

Untuk mengatasi modernisasi yang melemahkan ini, melalui serangkaian metodenya, suzuki berusaha untuk mengembalikan keutuhan tubuh manusia dalam kinerja, tidak hanya dengan menciptakan varian bentuk seperti Noh dan kabuki, namun dengan menggunakan kebijaksanaan universal dari ini dan pra-tradisi modern. Dengan memanfaatkan dan mengembangkan prinsip ini ia mencoba menciptakan teater yang berkesempatan untuk mengkonsolidasikan kembali kemampuan fisik kita yang terpotong-potong dan menghidupkan kembali kapasitas perseptif dan ekspresif tubuh. Hanya dengan melakukan hal itu, kita bisa memastikan berkembangnya budaya dalam peradaban.

bersambung …

 

tentang Tadashi Suzuki

Tadashi Suzuki (鈴木忠志?, Lahir 20 Juni 1939 di Shimizu, Shizuoka). Suzuki merupakan seorang sutradara teater, penulis dan filsuf yang bekerja di Toga, Toyama, Jepang. Dia adalah pendiri dan Sutradara Suzuki Company Of Toga (SCOT). Penyelenggara festival teater jepang yang pertama (Toga Festival). Bersama Anne Bogart ikut mendirikan Saratoga International Theater Institut di Saratoga Spring, New York. Tadashi Suzuki adalah pencipta metode akting Suzuki. Suzuki pernah menjadi sutradara artistik umum Shizuoka Performing Arts Center (1995~2007). Ia juga merupakan anggota komite international Theatre Olypics. Anggota sekaligus pendiri Festival BeSeTo (diselanggarakan oleh seniman teater terkemuka dari jepang, korea, dan cina) dan ketua dewan direksi dari Japan Performing Arts Foundation, jaringan teater profesional di Jepang.

Naskah dan karya yang pernah dipentaskan Suzuki antara lain On the Dramatic Passions”,“The Trojan Women”,“Dionysus”,“King Lear”, “Cyrano de Bergerac”, “Madame de Sade”, dll.

Selain produksi dengan organisasinya sendiri, Suzuki juga sering melakukan kolaborasi international sebagai sutradara, salah satu karya kolaborasinya adalah The Tale of Lear, yang disajikan di empat daerah di Amerika. King Lear disajikan bersama Moscow Are Theatre, Oedipus Rex diproduksi bersama Cultural Olympiad dan Düsseldorf Schauspielhaus. Dan Electra diproduksi bersama dengan Ansan Art Center / Teater Arco Arts di Korea dan Taganka Teater di Rusia.

Dia membawa grupnya, ke Tokyo di desa pegunungan yang terpencil di Toga pada tahun 1976. Suzuki telah menuliskan teorinya dalam beberapa buku. Kumpulan tulisannya dalam bahasa Inggris, The Way of Acting diterbitkan oleh Theatre Comunication Group (US). Dia telah mengajarkan sistem pelatihan aktingnya di sekolah-sekolah dan grup teater di seluruh dunia, termasuk Juliard School dan Moscow Art Theatre. Cambridge University Press menerbitkan The Theater Of Suzuki Tadashi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *