Esai teater Tokoh

BELAJAR BERSAMA MAESTRO (BBM) ISWADI PRATAMA

Teater Asyik, Asyik Teater*
(BELAJAR BERSAMA MAESTRO (BBM) ISWADI PRATAMA)

oleh Alexander GB

Sore, langit sepia, angin berhembus lembut, seorang  lelaki setengah baya mengenakan kaos biru dan celana jean hitam berdiri di beranda rumah yang sebagian dindingnya dicat warna kunyit. Seulas senyum mekar menyambut kedatangan belasan remaja yang baru tiba dari Bandara Raden Intan. Tawa renyah, bau keringat, belasan tas dan koper, menjadi saksi perjumpaan tersebut.

Lalu hari berangsur gelap. Senin malam (2/7/2018), lelaki setengah baya itu ditemani Imas Sobariah (isteri) dan belasan remaja berkumpul di pendopo, tempat yang biasanya digunakan untuk latihan atau veneu sederhana berlangsungnya peristiwa seni dan pemikiran di Lampung. Di Sanggar Teater Satu Lampung berdatangan 15 pelajar dari berbagai kota di Indonesia. Mereka adalah peserta program Belajar Bersama Maesto (BBM), satu program unggulan Direktorat Kesenian, Ditjen Kebudayaan,Kemendikbud Republik Indonesia  yang dijadwalkan berlangsung selama 14 hari, dari tanggal 2 hingga 15 Juli 2018.  Program ini sekaligus menjadi salah satu bukti bahwa pemerintah telah hadir dalam upaya mengembangkan kesenian di Indonesia maupun mewujudkan generasi muda Indonesia yang berkarakter melalui pendekatan seni dan budaya. Pada konteks inilah program BBM  menemukan relefansinya, sebagai program yang dirancang untuk membangun integritas, memupuk kejujuran, kreativitas, dan memberi wadah berekspresi secara positif bagi generasi muda Indonesia.

Senyum mengembang dari 15 peserta menandai acara pembukaan program BBM Iswadi Pratama, meski sebagian mungkin masih jetlag. Binar bahagia jelas terpancar dari wajah mereka saat bertemu dengan Sang Maestro. Jika menengok kota asal mereka, bisa jadi ini adalah kesempatan yang langka, dan tentu saja mereka patut bangga, karena termasuk 300 peserta terpilih di antara tiga ribuan pelajar SMA/SMK se-Indonesia yang mendaftar program BBM 2018.

Selama 14 hari mereka tinggal di kediaman Maestro Iswadi Pratama yang beralamat di Jl. Bukit Kemiling Permai, Gang Waluh No.45, Kemiling Permai, Kemiling, Kota Bandar Lampung, Lampung.   Rumah yang menjadi tempat berlatih dan kantor Teater Satu  Lampung, selain telah pula menjelma sebagai salah satu veneu kegiatan teater dan sastra di tanah lada ini. Peserta BBM selain menyediakan ruang penggalian proses kreatif sang maestro,  juga memberi kesempatan pada mereka transformasi pengetahuan di bidang teater dan sastra sastra. Mereka Dapat bertatap muka, berbincang, dan mendapat bimbingan langsung dari salah satu sutradara dan sastrawan terbaik Indonesia saat ini. Program BBM tentu menjadi kesempatan langka dan sekaligus berharga bagi belasan pelajar sebagai generasi penerus bangsa.

“Kesan pertama saya  bertemu Maestro Iswadi Pratama, orangnya sangat sederhana, wawasanya luas, dan murah senyum. Saya memilihnya karena ingin meningkatkan kemampuan saya di bidang penulisan dan sekaligus teater. Pengalaman ini kelak yang akan saya bagikan di daerah saya. Saya ingin menjadi seperti Pak Iswadi yang meski sudah terkenal tetapi tetap rendah hati,” ungkap Magdalena Dina Marinu dari SMAN 9 Manado Sulawesi Utara.

Harapan Magdalena tidak bertepuk sebelah tangan, sebab Iswadi Pratama sejak lama dikenal menekuni dua bidang sekaligus, Teater dan Sastra. Sebagai sastrawan, Iswadi dinilai sebagai penyair liris terbaik yang dimiliki Lampung, karya-karyanya banyak menginspirasi dan membuka ingatan-ingatan masyarakat. Sementara di bidang teater namanya tak kalah berkibar, ia ditasbihkan sebagai sutradara terbaik Indonesia versi majalah Tempo pada tahun 2012, grup teater terbaik, naskah terbaik, dan sejumlah penghargaan lainnya. Karya puisi-puisi dan teater Iswadi bersifat humanis dan terasa dekat dengan menyadarkan kehidupan sehari-hari serta mudah untuk dipahami.

Sang Pengayom Teater dan Sastra Lampung

Seperti halnya penyair Umbu Landu Paranggi yang banyak “melahirkan penyair” di Yogyakarta pada era  1970-an hingga 80-an dan di Bali di era 1990-an hingga 2000-an, di Lampung sosok serupa muncul pada diri Iswadi Pratama, demikian menurut Oyos Suroso HN, wartawan The Jakarta Post yang juga pendiri koran online Teras Lampung. Bahkan Oyos yang juga sastrawan Lampung ini menjuluki Iswadi Pratama sebagai Empu Sastra dan Teater, alasanya selain berkarya untuk diri sendiri, Iswadi juga “melahirkan” banyak penyair dari Lampung, sementara di bidang teater karya-karyanya juga sudah mendunia.

Karya–karya puisi Iswadi tersebar di berbagai media massa, selain terhimpun dalam antologi bersama: Gelang Semesta (1987), Belajar Mencintai Tuhan (1992), Daun-Daun Jatuh Tunas-Tunas Tumbuh (1995), Refleksi Setengah Abad Indonesia (1995), Antologi Cerpen dari Lampung (1996), Cetik (1996), Mimbar Abad 21 (1996), Hijau Kelon dan Puisi 2002 (2002), Pertemuan Dua Arus (2004), Gerimis (dalam Lain Versi) (2005, Asia Literary Review (2006), dan Terra (Australia-Indonesia, 2007), Gema Secuil Batu (2008), Buku Kumpulan Puisi Harakah Haru (2016). Beberapa naskah teater: Ruang Sekarat, Rampok, Ikhau, Nak, Menunggu Saat Makan, Dongeng tentang Air, Aruk Gugat, Isteri Pilihan, Nostalgia Sebuah Kota, Kisah-Kisah yang Mengingatkan, Orang-orang Setia, Hikayat Pendekar Cidera, dan lain sebagainya.

Di bidang teater, kontribusi Iswadi juga tak kalah besar. Ia memprakarsai munculnya Forum Teater Halaman, yaitu sebuah ajang diskusi dan workshop teater yang diikuti sejumlah kelompok teater Sekolah Menengah Umum (SMU) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Sebelum membentuk Forum Teater Halaman, Iswadi terlebih dulu membantu beberapa sekolah membentuk kelompok teater. Setelah ada belasan SMU dan SMK di Lampung yang memiliki grup teater, pada 2000 mulailah digelar Liga Teater Pelajar di Taman Budaya Lampung yang hingga sekarang masih bertahan. Selain Liga Teater Pelajar ia juga mendorong adanya Hajatan Teater Kampus untuk kalangan mahasiswa. Sementara untuk wilayah yang lebih luas, bekerjasama Yayasan Hivos Indonesia, pada tahun 2012 ia mendorong lahirnya event teater se-Sumatera atau kemudian lebih dikenal dengan nama Kala Sumatera, Panggung Teater Perempuan Sumatera, dan lain sebagainya.

Iswadi Pratama lahir pada tanggal 8 April 1971 di Tanjungkarang, Bandar Lampung, sebagai anak kelima dari enam bersaudara. Ayahnya, Ismail Somad, ibunya, RNG Zakrofah. Dia menamatkan SD, 1984, SMP, 1987. Lulus SMA, 1990, melanjutkan kuliah di Jurusan Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Lampung. Gelar sarjana diraihnya pada 1996.

Ia menyukai sastra sejak sekolah dasar, lalu semasa kuliah sempat menjadi bagian dari Teater Kurusetra Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Universitas Lampung pada tahun 1992. Pada 1994, Iswadi Pratama keluar dan bersama Panji Utama membentuk Forum Semesta. Tapi, forum itu pecah. Kemudian, bersama Imas Sobariah, salah satu alumnus ISI Bandung mendirikan Teater Satu.

Teater Satu  yang didirikan 18 Oktober 1996, berupaya melaksanakan program-program kesenian, kebudayaan, pendidikan, dan sosial kemasyarakatan. Tujuannya, menginspirasi masyarakat untuk meraih nilai-nilai yang dapat mendorong terjadinya perubahan hidup lebih baik. Anggotanya yang aktif lebih 25 orang. Puluhan drama, karya sendiri maupun karya penulis hebat seperti; Samuel Beckett, Anton Chekov, Sophocles, Jean Genet, Sam Sephard, Pramudya Ananta Toer, N. Riantiarno, Arifin C Noer, Arthur S. Nalan, Gunawan Mohammad, dan lain sebagainya.

Selain memanggungkan naskah lakon karya pengarang lain, Iswadi Pratama bersama Teater Satu juga melakukan sejumlah eksperimen sejak 1998. Berawal dari diskusi kecil yang membahas hubungan pertunjukan teater dengan penonton. Lalu muncul pertanyaan: Mungkinkah membuat pertunjukan yang bisa diterima dan dinikmati oleh semua lapisan masyarakat? Apakah mungkin dicapai suatu bentuk artistik dan estetik pertunjukan yang bisa diterima dan dimengerti secara umum? Apakah esensi dari sifat-sifat universalitas dalam karya seni pertunjukan?

Iswadi juga  kerap mementaskan drama yang diilhami dari puisi-puisinya, antara lain; Nostalgia Sebuah Kota yang menjadi Naskah Terbaik dan meraih Peringkat Ketiga GKJ Awards pada Festival Teater Alternatif se-Indonesia 2003. Pada acara ini Teater Satu mendapat penghargaan sebagai naskah Terbaik I, Kelompok Terbaik III, Sutradara Terbaik II, Aktris Terbaik II.

Pada 2004, Nostalgia Sebuah Kota: Kenangan Pada Tanjung Karang, dipentaskan di tiga kota; Bandung, Jakarta, dan Makasar, dengan dana Hibah Yayasan Kelola. Dedikasinya yang besar dalam perkembangan teater di Lampung ditunjukkannya dengan memelopori Festival Teater Pelajar dan Arisan Teater Pelajar di Lampung. Kala Sumatera, Panggung Teater Perempuan Sumatera, dan masih banyak lagi lainnya. Pada Juni 2005 lalu naskah yang sama yang digarap Iswadi juga mendapat penghargaan dari Kementerian Pariwisata dan diundang dalam Indonesia Performing Art Nart (IPAM), di Nusa Dua, Bali

Apresiasi berskala dunia pun pernah diraih Iswadi. Karyanya, Nostalgia Sebuah Kota, yang meraih sederet prestasi di Tanah Air era 2003-2004, kemudian dipentaskan di Koln, Jerman, pada 2011. Tim yang terlibat terdiri dari berbagai bangsa: sutradara Kristof Szabo (Hungaria), penerjemah Sabine Muller (Jerman), penata artistik Tanz Theatre Fina Bausch dan koreografer Gyula Burger (Hungaria), serta penari dan aktor dari Rusia, Belanda, Spanyol, Jerman, Pantai Gading, juga Indonesia (Teater Satu)

Sejak tahun 2008 hingga sekarang, Teater Satu menyelenggarakan tiga projek utama: Panggung Perempuan Sumatera, Jaringan Teater Sumatera, Festival Seni Sumatera. Ketiga projek utama ini ditujukan untuk mendukung dan mengembangkan kelompok-kelompok teater di Sumatera dalam bidang artistik dan manajemen. Proyek tersebut berisi kegiatan workshop kepemimpinan, workshop bagi penulis lakon dan sutradara, workshop bagi penata artistik, workshop untuk projek penelitian, seminar dan lokakarya masalah-masalah perempuan, jaringan kerja, pergelaran karya, penelitian dan penggalian sumber-sumber penciptaan berdasarkan khazanah kebudayaan lokal, dan penerbitan buku teater

Selain tampil di Indonesia pernah juga tampil di luar negeri,  seperti  Malaysia, India,  Australia, Jerman dan Jepang. Pada tahun 2017 Teater Satu mengadakan pementasan keliling di Australia, yaitu di  Melborn,  Sedney,  Canbera,  Darwin, selama dua bulan,  tampil hingga 38 kali. Itu juga yang biayai orang lain bukan dari Indonesia sendiri.  Iswadi mengatakan selama di Australia hanya membawa enam orang,  satu sutradara dan lima aktor,  judul teater yang dimainkan” The Age of Bones”. Iswadi mengatakan selama di sana mereka tinggal rumah seni.  Dan gedung untuk mereka tampil berbeda disetiap kotanya seperti di Gedung Lamama Teater (Melbourne), Sidney Paramtha Riversaid,  Teater Australia Yout Peopel,  Brown Mart Teater.

Terbaru, pada tahun 2018, menggandeng Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Fasiltasi Kegiatan Kesenian (FKK), terselenggaralah Workshop dan Pementasan Teater, baik yang basisnya kampus maupun independen. Workshop teater yang difaslitasi oleh Teater Satu dilaksnakan dari tanggal 5 – 14 Mei 2018, yaitu workshop penyutradaraan, workshop pemeranan, workshop artistik. Dilanjutkan program pementasan pada hari Kamis – Sabtu, 28 – 30 Juni 2018, dua pementasan yang dapat dijadikan bahan studi dan sekaligus tonton bagi masyarakat Lampung, yaitu Antropodipus produksi Teater Satu Lampung (28-29/6), dan Pilgrim 2 produksi Komunitas Berkat Yakin Lampung (30/6).

Demikianlah informasi singkat mengenai sosok yang penampilannya selalu sederhana dan ramah, Iswadi Pratama, yang oleh teman-teman sebayanya biasa dipanggil “Anang”  akronim dari Anak Lanang, sementara oleh para junior atau yang usianya lebih muda ia  akrab dipanggil “Kak Is,” dan oleh peserta BBM mendapat sebutan “Mbah Is.”

Merayakan Harapan dan Keberagaman

Sebagai salah satu provinsi yang plural, keberagaman telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Lampung. Sejak dulu berbagai suku atau etnis hidup berdampingan di sini, termasuk seni dan budayanya. Bahasa yang digunakan pun bermacam antara lain: bahasa Indonesia, bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Bali, bahasa Minang, bahasa Semendo dan bahasa setempat yang disebut bahasa Lampung.

Mbah Is yang meski berdomisili di Lampung, ia lahir dari orang tuang yang berdarah Jawa (Ibu) – Sumatera Selatan (Bapak). Demikian juga Imas Sobariah (Isteri) yang  berdarah Sunda (Jawa Barat). Anggota Teater Satu pun dibangun oleh keberagaman, ada yang suku Lampung, Jawa, Sumantera Selatan, Sunda, Sumantera Barat, dan lain sebagainya. Jadi meski latar belakang budaya ke 15 peserta berbeda-beda, hal tersebut bukan menjadi kendala serius.

Meski tidak bisa ditampik pula bahwa muncul perasaan canggung dari ke- 15 peserta BBM ketika baru menjejak kakinya di sini. Tempat baru, teman baru, dan suasana baru menjadi kisah tersendiri yang –sangat mungkin– bisa merubah pandangan hidup, atau minimal menjadi nuansa baru bagi kehidupan mereka. Meski keberagaman sendiri bukan hal baru dalam interaksi sosial mereka sebelumnya.

Senin malam (2/7) di pendopo Teater Satu Lampung saat saya berkesempatan hadir pada acara pembukaan program BBM Iswadi Pratama. Sebagian peserta tampak lelah karena baru tiba di Lampung, meski begitu mereka nampak bersemangat mengikuti acara ini. Tawa renyah, binar mata peserta BBM yang mungkin kali peryama bertemu tokoh idolanya menghangatkan suasana.

Peserta BBM Iswadi Pratama terbanyak dari pulau Jawa, sebanyak 8 orang yaitu Razez Manggala Putra (SMA Unggulan M.H Thamrin Jakarta), Denny Maulana Malik (SMAN Tomo, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat), Ivanda Gilang Cahyakusuma, MAN 2 Madiun, Ngawi, Jawa Timur. Fauziah Listianan Putri, SMAN 1 Klaten, Jawa Tengah. Muhammad Ridwan Sidik, SMAN 1 Balaraja, Tangerang, Banten. Mohamad Yogi Feripto, SMAN 1 Brebes, Jawa Tengah. Nur Nisrina Hanif Rifda, SMAN 1 Bojonegoro, Jawa Timur, dan Yohana Fransiska Destrina Sona Simbolon, SMA Santa Maria 1 Bandung, Jawa Barat.

Dari Sulawesi sebanyak 4 orang, Grace Palamba, SMAN 1 Torja Utara, Sulawesi Selatan. Early Melati Dalilah Putri, SMAN 1 Wangi-wangi, Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Magdalena Dina Marinu, SMAN 9 Manado, Sulawesi Utara. Syaiful Alim Darwis, MAN Wajo, Sulawesi Selatan. Pulau Kalimantan diwakili oleh Steve Geraldy Pala Langan, SMAN 8 Balikpapan, Kalimantan Timur. Rades Saputra, SMAN 3 Sampit, Kotawaringin, Kalimantan Tengah. Semnetara satu peserta lagi dari pulau Bali yaitu Ni Luh Putri Kariani, SMAN 1 Gianyar, Bali

Perbedaan pulau atau kota asal ke-15 peserta ini tentu secara langsung merujuk pada perbedaan budaya, perbedaan kecenderungan perkembangan teater dan sastranya,  Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jakarta. Termasuk yang berasal dari Balik, Kalimantan dan Sulawesi, termasuk latar teater dan sastranya.  Kini mereka belajar bersama, mencoba saling mengenali, berbincang, beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Selama 14 hari mereka membuka diri, menerima keberagaman tersebut, membentuk harmoni dalam suatu keindahan. Keberagaman sebagai bagian yang ciri negara kita yang juga membentangkan sejumlah fakta  bahwa Indonesia demikian kaya akan seni budaya.

Sesuatu berbeda jika saling menerima akan menghasilkan sesuatu yang indah, saling merajut, menyusun harmoni dan justru bisa menjadi sumber proses kreatif karya yang akan mereka hasilkan di kemudian hari. Termasuk mungkin harapan mereka setelah bertemu Maestro Iswadi Pratama yang memang menukuni dua bidang sekaligus, Teater dan Sastra.

Steve Geraldy P d mengungkapkan harapannya yang ingin mengetahui tentang seni dan proses kreatif Sang maestro yang menekuni dua bidang sekaligus. Ia mencoba memotret kehidupan teater di kotanya yang perkembangan teater dan sastranya belum semaju di kota-kota lain di Indonesia. Khususnya di sekolah, pembelajaran teater maupun sastra tidak jelas materi dan metode pengajarannya sehingga kurang diminati. Denny Maulana Malik tertarik mengikuti program BBM Iswadi agar mendapat pengalaman berproses teater dan menulis (sastra) langsung dari Sang Maestro. Pengalaman berteater dan sastra selama ini diperoleh karena ia mengikuti kegiatan ekstrkurikuler di sekolahnya. Minimnya referensi, khususnya minimnya pertunjukan teater di sekolah dan kualitas pengajar seni (sastra dan teater).

Razez Manggala Putra berkisah ia sudah beberapa kali terlibat kegiatan teater sekolah juga memiliki harapan yang sama. Meski banyak pertunjukan teater di Jakarta tapi ia merasa kurang referensi karena terbatasnya ruang untuk menonton atau menyaksikan pertunjukan teater, termasuk jika ingin mengetahui proses kreatifnya. Pengalaman berteater hanya diperoleh di sekolahnya, dan pengalaman mengikuti sejumlah event di tingkat pelajar.

Sementara Rades Saputra dari Sampit Kaliman Tengah mengungkapkan selain belajar teater ia juga berharap dapat belajar menulis sastra dengan tepat yang selama ini tidak ia peroleh di Kalimantan karena minimnya fasilitas dan pertunjukan teater. Gilang Cahya Kusuma dari Ngawi Jawa Timur dengan raut gembira berharap dapat mengikuti kegiatan BBM dengan baik,  Grace Palamba dari Toraja Sulawesi Selatan yang senang dengan dunia penulisan (puisi) berharap diajari menulis puisi yang baik dan berteater sebagaimana Sang Maestro.

Ni Luh Putri Kariani dari Bali bercerita sejak kecil menyukai hal-hal berbau seni berharap dapat pengalaman yang sebanyak-banyaknya mengenai teater, menusli dan membaca puisi selama program BBM. Fauziah Listiana Putri dari Klaten-Jawa Tengah ingin mengetahui teater dan sastra. Ridwan Sidik dari Banten ingin mendapatkan ilmu teater yang kelak bisa dibagikan di sekolahnya. Early Melati D.P, Wakatobi, Sulawesi Tenggara profil sang maestro sangat cocok dengan dirinya yang memang menyukai teater dan sastra sekaligus.

Magdalena Dina Marinu dari Manado Sulawesi Utara menyukai dunia penulisan dan teater, ia yang selama ini sudah akrab dengan dunia penulisan (puisi, prosa, naskah film, artikel) dan hendak menerbitkan novel sangat berharap bantuan dari Sang Maestro untuk meningkatkan kualitas karya penulisannya, termasuk kesempatan untuk mempelajari teater-pemeranan yang benar.

Sementara Syaiful Alim Darwis dari Wajo, Sulawesi Selatan bercerita bahwa teater belum menjadi salah satu kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya, karena itu ia sangat antusias untuk mengikuti program ini. Syaiful bersentuhan dengan seni karena ia menyukai cipta dan baca puisi di sekolahnya. M Yogi Feripto, Brebes, Jawa Tengah ingin bertemu sosok Iswadi Pratama karena namanya sudah terkenal baik sebagai sastrawan maupun teaterawan. Destrina Sona Simbolon dari Bandung Jawa Barat sejak kecil sudah tertarik dengan dunia sastra, dan ia juga tertarik dengan dunia seni peran. Nur Nusrina Hanif Rifda, Bojonegoro Jawa Timur  tertarik dengan profile Sang Maestro. Ia juga berharap dengan mengikuti program ini semakin mendorongnya untuk menghasilkan buku puisi. Ia percaya bahwa seni dapat menjadi jembatan baginya untuk berprestasi dan sekaligus lebih memahami kehidupan.

Pemberdayaan Diri Melaui Teater

Selasa (3/7), pada kelas teori, Iswadi Pratama mengungkapkan bahwa proses teater bukan hanya melulu tentang bagaimana memproduksi teater dan sastra. Bukan hanya praktik pemeranan atau menghasilkan karya sastra akan tetapi tentang menanamkan kedisplinan hidup dan sebuah proses secara konsisten atau terus menerus untuk lebih mengenal diri sendiri. Pembelajaran terhadap rutinitas kehidupan sehari-hari juga menjadi menu utama. Tak pelak pula, bila para peserta pun dalam kesehariannya terlihat menyapu, mengepel, menyiapkan tempat latihan, mencatat aktivitas (kegiatan) harian, ataupun berbelanja ke pasar.

“Disiplin sehari-hari akan tercermin ke panggung. Bagaimana kita menjalani hidup itulah yang akan dipantulkan pada penampilan kita suatu pertunjukan. Jadi jika ingin meningkatkan kualitas kesenimanan baik itu melalui jalan pemeranan maupun penulis,  yang perlu dilakukan setiap individu adalah mengidentifikasi dan memperbaiki disiplin hariannya. Latihan bukan hanya saat bertemu di tempat latihan seperti ini. Tapi hidup kita semua adalah latihan. Itulah yang saya tanamkan yang tergabung di Teater Satu,”  ujar Mbah Iswadi.

Melalui seni peran maupun menulis, Iswadi Pratama mengajak peserta BBM agar lebih sadar menjalani kehidupannya. Pemahaman inilah yang mencoba ditanamkan dan harus dimiliki peserta sebagai suatu proses dalam teater dan sastra yang mereka pilih sebagai media ekspresinya. Mempelajari teater adalah mempelajari manusia dengan pernak-perniknya. Manusia sebagai mahluk individu dan sosial. Individu berkenaan dengan watak atau karakter tertentu (psikologi), maupun lingkungan (strata sosial, ekonomi, geografi, dan lain sebagainya). Maka proses teater sebagaimana yang dikehendaki Iswadi adalah proses identifikasi dan pengembangan diri yang tidak pernah ada kata selesai. Proses pengolahan individu dengan teater atau seni peran sebagai jalannya.

Transformasi pengetahuan di Teater Satu berasal dari dua arah yang saling melengkapi. Pengetahuan tentang teater sebagai ilmu, yang menuntut kejelasan metode, prosedur, fungsinya bagi individu, maupun observasi (pengamatan dan pengalaman) individu dalam kehidupan riilnya. Keduanya harus menyatu, selaras, dan seimbang. Pembelajaran itu pula yang diterima peserta BBM sehingga menjadi pengalaman berharga. Transformasi yang secara langsung diberikan oleh maestro teater dan sastra, yang sudah menekuni bidang ini selama kurang-lebih 30an tahun.

Berkenalan Dengan Tiga Pusat (Center) Individu

Rabu (4/7), pukul 14.00, setelah semua peserta BBM menunaikan makan siang dan ibadah, Mbah Is mengumpukan cucu-cucunya di pendopo Teater Satu. Menggunakan spidol dan whiteboard ia mulai mengurai tentang materi-materi yang akan dipelajari oleh peserta BBM. Mengenakan kaos oblong dan celana jean, Mbah Is memulai sesi teori-teori teater.

Mengutip Grotowski, Mbah Is menjelaskan bahwa yang harus ada, syarat wajib yang harus dipenuhi pada setiap peristiwa teater adalah adanya Aktor dan Penonton. Aktor berkenaan dengan peran, atau tokoh yang dimainkan-diperankan, sedangkan penoton atau publik sebagai saksi dari berlangsungnya peristiwa teater (tontonan). Maka, tujuan proses teater pada akhirnya adalah melatih perangkat keaktoran agar selalu siap menerima tantangan pemeranan si aktor. Agar aktor siap ia harus melatih.

Mengapa perlu latihan? Apa yang dilatih? Apa metodenya? Bagaimana melatihnya? Berapa lama melatihnya?

Mbah Is yang beberapa waktu lalu mensarah Aktong Berdasarkan Stanislavski menjelaskan bahwa setiap individu secara umum, digerakkan oleh tiga pusat atau tiga center dalam dirinya. Kualitas individu bergantung pada kualitas ketiga center ini, yaitu kepala sebagai pusat kognisi (berpikir, intelektual, imajinasi), dada-emotional center (rasa, empati, emosi), dan hara—fisikal center sebagai pusat gerak, keseimbangan,  dan energi. Ketiga pusat inilah yang selama proses teater terus dikenali, dilatih atau diolah sampai kelak dapat memenuhi setiap tantangan pemeranan, dan pada akhirnya meningkatkan kualitas pementasan.

Pembagian ke tiga pusat ini agar lebih jelas, khususnya mengenai menu latihan, metode, porsi latihan, dan tujuan latihan. Banyak kelompok teater di Indonesia itu kalau ditanya latihan tidak selalu bisa menjelaskan secara ilmiah, apa yang dilatih, apa metodenya, mengapa perlu latihan? Mayoritas kelompok latihan hanya untuk pentas, dan yang lebih parah lagi tidak tahu, metode yang tepat untuk kelompoknya masing-masing. Yang penting latihan.

Jadi pementaan ketiga unsur ini tujuannya mempermudah aktor atau individu pada proses latihan. Ini sangat pentin sebelum masuk ke latihan. Pemahaman dasar ini harus diketahui oleh semua orang yang terlibat pada proses teater. Mbah Is menjelaskan banyak metode latihan teater, dari Stanislavski, Grotowski, Meyerhold, Tadashi Suzuki dan lain-lain itu sesungguhnya adalah melatih dan mengoptimalkan ke tiga pusat yang ada pada setiap individu.

Mengenali ketiga pusat tersebut sama saja dengan mengenali diri sendiri. Bagaimana kita berpikir, bagaimana melatihnya kemampuan intelektual atau kognisi kita, latihan untuk meningkatkan kepekaan emosional, empati atau yang segala yang berkenaan dengan rasa, melatih tubuh, baik power, fleksibilitas, ketahanan-stamina, power dan lain-lain. Jika ke tiga pusat ini optimal, maka kualitas individu meningkat, terlepas apakah ia akan menjadi aktor (seniman) atau bukan. Pada titik inilah proses berteater bisa dibilang sebagai proses empowering (penguatan) atau membangun karakter (character building)

Mengolah Tubuh Mengolah Diri

Dimulai Selasa pagi (3/7), sekitar pukul 08.00, usai sarapan, joging, mandi, melaksanakan piket harian, peserta berkumpul di pendopo Teater Satu. Kali ini mereka hendak diajarkan Silat. Iswadi Pratama dibantu Aliman Surya memperkenalkan beberapa gerak dasar dari silat. Silat merupakan menu latihan utama di Teater Satu.

Peserta BBM pun mengikuti latihan ini dengan antusias. Meski awalnya tampak kepayahan, tapi peserta BBM melakukannya dengan senang. Aliman Surya dengan sabar menunjukkan dan mengajari jenis kuda-kuda dasar silat yang harus dikuasai peserta BBM.

Tujuan latihan ini adalah untuk membentuk individu agara memiliki tubuh dan pribadi yang kuat. Jika kakinya kokoh, maka secara otomatis saat berdiri di panggung akan lebih kokoh atau yakin. Sikap yakin atau percaya dengan tubuh akan menular ke sistem kepercayaan diri secara mental.

Latihan silat juga untuk menguji fleksibilitas tubuh, koordinasi antar bagian tubuh, distribusi energi dan pernapasan. Sepanjang berlangsungnya latihan, keringat mengucur deras, pakaian peserta pun sebagian ada yang basah. Namun mereka melakukannya dengan senang hati. Setelah berlatih silat dilanjutkan dengan beberapa latihan pengolahan tubuh. Peserta didorong untuk melampaui batasannya masing-masing. Jadi yang dilatih bukan hanya aspek fisikal, tetapi juga mental.

Kebugaran fisik menjadi tuntutan bagi setiap pelaku seni. Itulah sebabnya di teater satu, banyak latihan yang bersifat fisikal. Tanpa tubuh yang prima, akan sulit menghasilkan pertunjukan yang bagus. Tujuan dari beberapa latihan tubuh ini adalah pengenalan yang baik terhadap semua bagian tubuh, meningkatkan fleksibiltas dan power,  kontrol dan koordinasi tubuh lebih baik, dengan percaya dengan tubuh sama dengan meningkatkan kepercayaan diri.

Selain Aliman Surya, latihan olah tubuh juga dibantu Deri, Desi, Laras, Gandi, dan lain sebagainya sementara Iswadi Pratama dan Imas Sobariah mengamati jalannya latihan. Selain silat, mereka juga diperkenalkan beberapa jenis latihan pengolahan tubuh, tari, beberapa jenis latihan vokal atau pelisanan, bernyanyi, dan lain-lain.

Fokus dan Konsisten

Masih pada hari yang sama, selepas isya, peserta BBM mengikuti materi selanjutnya,  yaitu  latihan pengolahan teater.  Iswadi Pratama memberi titik tekan tentang pentingnya fokus dan konsisten. Fokus dan konsentrasi sangat penting bagi seorang aktor. Peserta berpasangan, berhitung secara bergantian hanya menggunakan vokal, lalu disusul dengan bentuk atau gerak tubuh tertentu, lalu dikembangkan hanya menggunakan gerak tubuh tertentu, pasangannya merespon sesuai dengan gerak lawan mainnya. Lantas dikembangkan dengan kata atau kalimat yang mengandung maksud tertentu. Peserta merespon pasangannya terus menerus dengan tepat.

Latihan ini benar-benar menguji konsentrasi peserta, koordinasi antara otak dan tubuh, spontanitas, koordinasi antara otak kanan dan kiri, termasuk peran emosi dan imajinasi. Peserta pun mengikuti latihan ini dengan gembira. Meski begitu mereka mampu memahami tujuan dari latihan ini dengan baik. Setelah menyelesaikan satu rangkaian game ini, Iswadi Pratama mengajak peserta berdiskusi. Peserta BBM diberi kesempatan untuk menyampaikan pengalamannya dan membuka sesi tanya jawab.

Setelah game (permainan), Iswadi kembali mendiskusikan tentang pentingnya fokus dan konsentrasi. Kali ini disangkut pautkan dengan hal yang lebih besar tentang pilihan hidup atau bagaimana setiap individu dituntut untuk berkomitmen pada cita-cita. Ia memberi contoh pengalamannya sendiri, tentang awal mula ketertarikannya dibidang sastra dan teater. Salah satu profesi yang dianggap tidak menjanjikan masa depan, khususnya di Lampung. Berkat totalitas, fokus dan konsisten, sastra yang memang disenanginya sejak kelas 5 SD telah mengantarnya sebagai  tokoh sastra di Indonesia. Termasuk ketertarikannya di dunia teater, yang habis-habisan ia geluti lebih dua puluh tahun ini. kita bisa fokus dan konsisten jika kita percaya, kita percaya karena kita sungguh-sungguh bidang yang sedang kita geluti, begitu pendapat Iswadi Pratama.

Iswadi berharap peserta memahami bahwa untuk menggapai cita-cita dibutuhkan fokus dan konsistensi. Tanpa fokus dan konsistensi kita tidak akan pernah bisa menghasilkan atau mencapai cita-cita. Demikian juga dalam dunia pemeranan, tanpa fokus dan konsistensi, seorang aktor akan kesulitan menjelmakan perannya, seorang penyair akan gagal menghasilkan puisi yang keren, seorang sutradara akan gagal menghasilkan pertunjukan yang menarik.

Seperti pada game atau permainan, jika pikiran kita riuh, maka respon terhadap pasanganya pasti akan lambat saat merespon bahkan jadi salah. Fokus dan konsisten ini sangat penting untuk semua hal, bukan hanya bagi pelaku seni. Karena itu latihan-latihan sederhana jika diiringan dengan pemahaman yang tepat akan sangat bermanfaat bagi setiap individu untuk tumbuh dan berkembang dengan tepat.

“Permainan ini menarik, awalnya memang mudah diikuti, tetapi semakin lama, semakin kompleks, karena baru pertama kali masih banyak salah, koordinasi antara kata dengan bentuk tubuh tidak  selaras. Dan dari latihan sederhana kemudian terus berkembang, bahkan melibatkan imajinasi dan emosi. Gamenya menarik, meski badan capek, kami senang melakukannya,” ujar Razez dari DKI Jakarta.

Perlakuan Iswadi Pratama dengan peserta BBM memang tampak bukan antara guru dengan murid atau antara pelatih dengan yang dilatih. Ia meminta peserta BBM memanggil Mbah Is, perlakuan yang cair Iswadi Pratama juga diikuti seluruh anggota Teater Satu yang memperlakukan mereka layaknya kakak dan adik. Sehingga proses adaptasi peserta BBM lebih cepat, terlihat kedekatan dan kebersamaan mereka dalam hampir segala hal.

Bahkan dari berbagai cerita, obrolan, dan merasakan langsung realitas kehidupan di sanggar, mereka menjadi sangat paham lekuk-liki kehidupan suatu kelompok teater,  yang  banyak makan asam-garam kehidupan berkesenian.

“Kami jadi tahu beberapa rutinitas yang dilakukan maestro dari awal hingga sukses lewat kehidupan sehari-hari dan cerita kehidupannya,” ujar Putri dari Bali.

Permainan 5 Menit

Kamis (5/7), peserta BBM diajak untuk berkenalan jenis-jenis akting dalam teater. Iswadi memberikan instruksi kepada Gandi Maulana mengulas tentang yang Given circumstane (situasi terberi) sebagaimana teori akting Stanislavsky.  Bahwa setiap laku (akting) di atas panggung, berada pada situasi dan  harus memiliki alasan tertentu. Gandi menjelaskan tentang Jeda logis, jeda psikologis, luft pause, dan lain sebagainya, lalu dilengkapi dengan penjelasan mengenai motif dan sasaran. Gandi kemudian membagikan kalimat dan meminta setiap peserta mengucapkan kalimat tersebut sesuai dengan motif atau maksud dari kalimat. Masing-masing peserta bergantian membacakan kalimat yang diterima sesuai dengan motif, lantas dievaluasi bersama-sama.

Peserta BBM dibagi tiga kelompok, kemudian diminta untuk membuat permainan sederhana. Game ini disebut permainan 5 menit. Peserta dibebaskan untuk menyusun kisahnya masing-masing, ada pembagian peran, kemudian melatih dan mempresentasikannya. Tak sampai 30 menit, mereka berhasil menyusun kisah sederhana. Ada yang menyoroti tentang fenomena Tiktok, Keluarga yang amburadul, fenomena lain yang sedang viral. Cara mereka mempresentasikan dan keberanian mereka dalam berperan layak diacungi jempol. Masing-masing tak merasa canggung ketika berakting, meski ada sejumlah kekurangan secara teknik. Namun poin penting pada kesempatan ini adalah keberanian mengekspresikan diri, merangsang kreativitas, kerjasama, dan pemahaman terhadap motif dan sasaran dalam akting mampu mereka serap dengan baik.

Pengalaman merancang pertunjukan 5 menit ini diharapkan akan menjadi pengalaman berharga bagi semua peserta. Sehingga nanti dapat dipraktikan di kelompoknya masing-masing.

Pengalaman Menonton, Mengamati, dan Mencatat

Senin, (09/07) peserta BBM diajank menonton dokumentasi pertunjukan produksi Teater Satu yang disutradarai Iswadi Pratama, Orang-orang Setia, Kursi-kursi karya yang diadaptasi dari The Chairs karya Eugene Ionesco, di sutradarai oleh Iswadi Pratama. Lakon yang pernah dipentaskan pada event Scot Summer Festival 2016, Toyama-Jepang, mewakili Indonesia.

Pada hari selanjutnya mereka menonton Buried Child karya Sam Shepard yang juga disutradarai oleh Iswadi Pratama. Selain itu mereka juga dapat  mengakses buku-buku dan sejumlah kliping koran yang memuat perjalanan karya Teater Satu di perpustakaan Teater Satu. Diskusi menjadi menu wajib setelah menonton.

Selain latihan rutin atau training, peserta peserta diajak untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah, mengenal ragam budaya Lampung. Sebagai satu upaya agar menambah wawasan peserta, serta meningkatkan kecintaan pada seni dan menumbuhkembangkan toleransi.

Sebelumnya, pada hari Sabtu (07/7) peserta BBM berkesempatan mengunjungi Gardance Story, salah satu sanggar seni di bandar Lampung yang selama ini mengembangkan tari-tari tradisi Lampung. Peserta BBM berkesempatan menyaksikan beberapa tarian khas Lampung, lantas dilanjutkan diskusi dengan salah satu tokoh budaya Lampung, berbincang mengenai prinsip atau sikap hidup (filosofi) orang Lampung yang tercermin pada tari maupun simbol-simbol seperti siger, motif-motif tapis dan lain sebagainya.  Razez dan kawan-kawan juga diberi kesempatan mencoba memainkan alat musik Lampung.

Kamis siang (12/07), setelah latihan silat, Iswadi Pratama memberi kejutan pada peserta dengan mengajak mereka menikmati kuliner khas Lampung. Salah satu menunya adalah Seruit, mereka menikmati sajian ini. lantas mereka berkunjung ke salah satu rumah Adat Lampung, melihat-lihat jenis-jenis kain, senjata, peralatan memasak, peninggalan-peninggalan bersejarah di Lampung.

Jumatnya (13/07) giliran mereka mengamati pasien yang sedang dirawat di rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Lampung, Negeri Sakti, Pesawaran, Lampung. Obeservasi ini sangat penting khususnya untuk membangun imajinasi dan emosi (empati) sehingga aktingnya di atas panggung akan lebih meyakinkan sesuai dengan kebutuhan naskah dan konsep sutradara.

Iswadi mewajibkan seluruh aktivitas tersebut dicatat pada jurnal harian peserta. Mereka menuliskan pengalaman selama mengikuti kegiatan, setiap hari. Hasil tulisan lalu diperiksa oleh Emma Lutfiani. Lantas Emma memberikan masukan kepada peserta BBM. Dengan metode ini, selain mengikat ilmu, teknik penulisan peserta pun terus menerus mengalami perbaikan. Iswadi menjelaskan bahwa banyak pelaku teater yang kurang memiliki kemampuan yang menulis dengan baik, padahal manfaat menulis bagi setiap individu sangatlah besar.

Prose Belajar Membuka diri

Proses belajar bersama merupakan realitas tersendiri. Bukan hanya saat latihan teater atau menulis fiksi.  Lebih dari itu bagaimana hidup bersama di sanggar yang baru, pelatih yang baru, warga sanggar yang baru, dan teman-teman dalam program BBM yang juga baru.Salah satunya perihal bahasa daerah yang mereka miliki masing-masing.

Latar bahasa memang seperti penemuan baru bagi mereka. Lima belas peserta BBM tersebut memiliki bahasa yang berbeda atau dialek yang berbeda. Ditambah lagi, realitas bahasa di sanggar pun demikian.

“Anggota Teater Satu, dan masyarakat Bandar Lampung tidak menggunakan bahasa Lampung. Semua menggunakan bahasa nasional, jadi memudahkan kami berinteraksi, termasuk ketika berinteraksi dengan peserta BBM yang lain. hanya saja memang dialeknya masih terbawa dengan daerah asal masing-masing,”ujar Magdalena.

Perbedaan bahasa daerah itu menjadi unik. Mereka pun akhirnya mengenal satusama lain dan menjadi akrab karena keunikan itu. “Kebiasaan orang selalu menggunakan logat bahasa daerah saat berbicara dalam bahasa Indonesia. Ini juga yang saya rasakan,” ujar Denny, peserta BBM dari Sumedang. Hal yang juga diamini Syaiful dari Kalimantan, “saya bisa bertukar bahasa daerah dengan teman-teman,” ujarnya.

Bahkan Steve mengungkapkan, “Saya jadi memahami bahwa Indonesia ini bahasanya berbeda-beda. Saya juga belajar bahasa dari teman-teman yang berasal dari Jawa Timur yang ternyata berbeda dengan Jawa Tengah atau Jawa Barat, Demikian halnya dengan teman-teman dari Sulawesi, Bali, atau Lampung sendiri. Setiap bahasa memiliki keunikannya sendiri.”

Memupuk Disiplin dan Kreativitas

Memahami teater adalah memahami kehidupan dan kemanusiaan. Maka selain menanamkan disiplin tinggi, kemandirian, Iswadi Pratama juga menciptakan proses belajarnya kental dengan nuansa kekeluargaan. Karena kerap membuat event pembelajaran bagi pelajar, mahasiswa dan umum, Iswadi Pratama tak mengalami kendala dalam proses BBM kali ini. Pengalamannya mengelola forum-forum sastra dan teater pelajar, sehingga ia dapat menentukan jenis materi dan porsi latihan yang tepat. Termasuk ia menghadirkan tiga aktor muda Teater Satu, yang usianya sebaya dengan peserta BBM, untuk mempercepat proses adaptasi dan kenyamanan proses pembelajaran.

Setiap sesi, Iswadi Pratama mewajibkan agar semua peserta memulainya dengan doa. Hal ini dimaksudkan agar setiap peserta tidak melupakan pentingnya aspek spiritual.  Sang Maestro menekankan akan pentingnya keberanian dan kesetiaan, tentang mindset atau pola pikir yang kreatif yang kini sangat dibutuhkan di Indonesia, dan fungsi seni bagi kehidupan.

Selama 12 hari semua peserta menyerap semua materi dengan baik, penuh kegembiraan. Kondisi atau lingkungan tertentu membuat setiap individu mampu mengembangkan kreativitasnya sendiri. Mereka menjadi lebih percaya diri. Khususnya mengenai sikap dan persepsi mereka terhadap diri sendiri selama proses latihan.

Iswadi mendorong peserta BBM agar memiliki disiplin sepanjang latihan, semua harus dilakukan dengan sungguh-sungguh (total), meski tentu saja tetap diiringi dengan canda tawa istilah lainnya adalah serius tapi santai.

Mereka jadi lebih memahami tujuan tahapan-tahapan latihan,  repitisi, bahwa individu akan semakin terasah jika terus berlatih, konsisten dan total, yang pada akhirnya mereka pun dapat menjadi maestro di bidangnya masing-masing.

Pengalaman Yang Menginspirasi

Ada proses panjang yang sulit, yang membutuhkan perjuangan yang gigih untuk menghasilkan karya yang monumental, bahwa melalui latihan teater mereka menemukan dunia mereka yang selama ini kurang dioptimalkan, kasih sayang dan cinta dari semua anggota teater satu dan hasil interaksi peserta BBM yang berasal dari berbagai kota ini adalah pengamalan yang berharga bagi mereka, generasi muda.

Melati, peserta asal Wakatobi merasa akan lebih mampu menghasilkan karya sastra yang lebih kompleks yang lebih berkualitas, ia lebih dalam mengetahui mengenai dunia pemeranan atau berakting. Ia menjadi lebih berani dan lebih yakin setelah banyak berbincang dengan Sang Maestro maupun anggota Teater Satu lainnya. Game membuat proses belajar tidak membosankan.

Senada dengan Melati, Sona dari Bandung juga senang dengan proses belajar di Teater Satu. Metode akting di teater satu telah membuka cakrawala berpikirnya. Bahwa akting bukan pura-pura, bahwa untuk menghasilkan akting yang berkualitas banyak syarat yang harus dipenuhi. Sedangkan untuk proses menulis, Sona yang sebelumnya sering merasa kehabisan ide, kini mengetahui bagaimana jalan keluarnya. Harapannya ia menjadi lebih produktif dan dapat mengikuti jejak sang Maestro.

Proses belajarnya seru dan sesuai dengan espektasinya, begitu menurut Magdalena, yang berharap akan segera menerbitkan novel perdananya. Latihan-latihannya seru, menyenangkan, dan semua materi dapat ia serap dengan baik. Melalui BBM ini selain mendapatkan ilmu, ia juga dapat lebih terbuka dengan teman-teman lain yang berasal dari kota lain, yang berbeda latar belakang.  Pemahaman tentang penokohan, motif, sasaran, dalam teater akan sangat membantunya meningkatkan kedalaman karya tulisnya.

Sementara Nawal peserta dari Lampung mengatakan bahwa melalui latihan-latihan teater ia merasa lebih percaya diri, lebih bebas dan lebih berani. Jadi nambah teman dan tentunya menambah semangat untuk menghasilkan karya juga. Fauziah dari Klaten senang karena mendapat banyak ilmu khususnya tentang penulisan. Metode latihan akting diteater satu menurutnya mudah dicerna bagi pemula dan seru. Ia menyukai skema atau game yang diajarkan Sang Maestro untuk membangun konflik saat menyusun kisah (cerita).

Razez dari Jakarta yang sebelumnya sudah aktif berteater lebih termotivasi untuk lebih serius menekuni dunia seni peran. Sang Maestro, yang meski sudah memiliki nama besar, wawasannya sangat luas orangnya sangat rileks, sederhana dan rendah hati, hal-hal tersebut membuat hatinya tergugah dan menginspirasinya. Tentang penulisan, ia kini jadi mengetahui bagaimana mengembangkan ide dan gagasan dengan tepat, termasuk mengatasi jika macet dan masih banyak kesan dan pesan lain yang secara garis besar bersepakat bahwa proses BBM ini sangat mereka nikmati dan meninggalkan kesan yang mendalam bagi setiap peserta.

 Kendala

Meski jadwal yang disiapkan oleh Teater Satu cukup padat, Peserta BBM Iswadi Pratama nampak selalu riang. Tak ada kendala yang berarti selama proses transfer pengetahuan. Barangkali mereka sedikit kaget pada fase awal mengikuti latihan silat khususnya saat praktik kuda-kuda yang membuat otot paha mengencang, sehingga peluh mengucur setiap sesi pagi. Jika pun harus dianggap kendala adala keterbatasan waktu, karena sebagian peserta ada yang interes menekuni dunia sastra dan sebagian menekuni teater, dua bidang yang memiliki disiplinnya sendiri-sendiri.

 Pesan Sang Maestro

“Seni adalah salah satu jalan untuk memuliakan, mengagungkan kemanusian.” ujar Iswadi Pratama pada sambutan pelepasan peserta BBM, Sabtu malam (14/6).

Akhirnya kebersamaan mereka harus diakhiri. Suasana haru mewarnai jalannya acara penutupan BBM Iswadi Pratama ini. Perwakilan Kemdikbud tak lupa mengucapkan terimakasih pada Sang Maestro dan Teater Satu sebagai tuan rumah yang telah menerima ke 15 peserta BBM 2018 dengan baik, melayani dan melakukan proses pembelajaran, dan lain-lain dengan lancar.

Pada kesempatan ini, dengan mata yang berbinar, Iswadi Pratama menekankan bahwa seni harus tetap dirawat dan dijaga, agar cinta dan kedamaian, kebersamaan, sebagaimana yang ditunjukan ke lima belas peserta BBM bisa menular di Indonesia ini. Bahwa kita semua saudara, keluarga yang saling menghargai, saling menyayangi, saling membantu dan berkarya. Ia mengajak semua peserta untuk berani menuangkan karyanya, mengutarakan pendapatnya, memperjuangkan cita-citanya masing-masing, bahwa telah lahir individu-individu baru, yang lebih mengenali dirinya, yang sudah mengtehaui rahasia atau alasan untuk terus berkarya. Teater Satu selalu terbuka bagi semua peserta BBM untuk kembali belajar bersama, berproses bersama di kesempatan yang berbeda.   Iswadi percaya bahwa prorgam ini, selain mengajak peserta berproses teater juga kemudian menumbuhkan kesadaran untuk menghargai dan menerima perbedaan, kemandirian, meningkatkan kemampuan beradaptasi, kecerdasan interpersonal, dan lain sebagainya.

Sebagai persembahan terakhir adalah presentasi peserta berjudul “Kenangan Tentang Tanjungkarang,” satu karya pertunjukan sederhana yang teksnya diambil dari puisi karya Iswadi Pratama. Ada tarian, ada sejumlah komposisi gerak, permainan bunyi, koor, permainan (akting) yang kesemuanya dilakukan oleh peserta BBM. Usai presentasi, penonton yang hadir pun memberikan tepuk tangan meriah pada acara closing ceremony peserta BBM Iswadi Pratama.

Masing-masing peserta kemudian menyampaikan kesan-kesannya selama mengikuti kegiatan BBM. Tangis haru semua peserta membuat sesak dada setiap orang yang hadir pada kesempatan ini. setelah saling berjabat tangan, berpelukan, menunjukkan kesan enggan berpisah, dan semacam membuat janji untuk saling merindukan, acara tersebut pun akhirnya ditutup dengan satu lagu persembahan Teater Satu untuk peserta BBM 2018.

Program BBM menurut saya adalah program yang sangat baik dan sebaiknya dilanjutkan oleh Kemdukbud RI, karena memberi kesempatan generasi muda untuk mengenal tokoh-tokoh penting di Indonesia, sehingga generasi muda lebih mengenal seni dan budayanya, mengenal proses kreatif masing-masing maestro, dan kemudian membuka jalan bagi mereka untuk menghasilkan karya yang berkualitas, berprestasi, dan membangun integritas diri. Acara-acara semacam ini sangat minim di Indonesia, kesempat untuk bertemu Maestro dari berbagai bidang seni ini adalah program yang cerdas untuk meningkatkan apresiasi generasi muda terhadap karya seni dan budaya yang ada di Indonesia.

 

*Judul Buku Panduan Teater yang diterbitkan oleh Teater Satu Lampung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *