Tokoh

Ari Pahala Hutabarat

Ari Pahala Hutabarat

(Antara Tuhan, Puisi, Teater, dan Sekolah)

  1. Tentang Hujan hingga Tuhan

    Tuhan

    Tuhan berkata, “Dulu Aku menciptakan Adam
    hanya mempergunakan satu suku kata: Kun!
    Tapi kemudian, ia dan anak-anaknya berbalik
    menciptakan Aku. Bukan dengan satu, namun dengan
    ribuan kalimat dan buku.”

(Antologi Puisi dan Cerpen Hilang Silsilah, DKL, 2013. hal 14.)

Petikan puisi di atas adalah satu ungkapkan kehidupan Ari Pahala yang sejak kecil tak lepas dari nilai religius. Sang kakek yang sangat taat dan sering mengkaji Alquran bersama dengan teman dan keluarga. Itulah yang membuat karya-karya puisi Ari cenderung berbicara tentang Sang Pencipta dan Pemberi Kehidupan.

Demikian pula kecintaannya dengan sastra yang tak muncul begitu saja. Ia mengatakan mengenal sastra karena masa kecilnya yang sudah gila baca, yang kian terasah saat di bangku kuliah, khususnya ketika bertemu, belajar dan berdiskusi bersama Ahmad Yulden Erwin, Riffian A Chepy, Iswadi Pratama, Didi Pramudya Mukhtar (Alm) dan lain-lain. Saat ini Ari dikenal sebagai salah satu sastrawan sekaligus seniman teater garda depan yang sering menghiasi panggung seni di Bumi Ruwa Jurai.

Ari mengaku tak membutuhkan waktu khusus untuk dapat menulis puisi. “Saya akan menulis puisi kapan saja dan di mana saja, kecuali ketika saya sedang lapar,” ujarnya berseloroh dengan tertawa ringan dalam wawancara malam itu.

Ari mengungkapkan keprihatinannya dengan kondisi kehidupan saat ini. “Sekarang manusia satu dengan yang lain sering saling ribut masalah kepercayaan,” kata dia. Hingga dirinya menciptakan puisi Tuhan tersebut.

Beberapa judul puisi lain juga sempat dirinya tunjukkan, seperti puisi Jarah Dusta dan Hantu-Hantu Hujan. Ari mengungkapkan kedua puisi tersebut adalah puisi terpanjang yang pernah ia buat. Puisi Jarah Dusta ia tulis sampai 50 halaman.

Bahkan, untuk puisi Hantu-Hantu Hujan, Ari berani menjamin karyanya adalah puisi terpanjang di Indonesia yang bertemakan hujan. Ari mengaku untuk menciptakan satu judul puisi seperti Jarah Dusta ataupun Hantu-Hantu Hujan,  ia membutuhkan waktu sekitar lima tahun.

Riset juga Ari lakukan ketika menulis puisi-puisi tersebut. proses penciptaan puisi Hantu-Hantu Hujan misalnya, Ari mengaku selalu mengamati setiap aktivitas dan kejadian saat turun hujan di mana pun dirinya berada. Di rumah, di jalan, Ari mengaku akan mengamati setiap turun hujan.

“Saat hujan adalah saat hadirnya utusan tuhan,” ujar Ari, mengutip salah satu bait puisinya. Itulah yang membuatnya sangat tertarik menulis puisi tentang hujan, karena puisi yang dirinya buat juga adalah karunia yang Ari anggap sebagai wahyu Tuhan. “Ketika datang ide untuk menulis sebenarnya Tuhan juga sedang menurunkan wahyunya,” ujarnya, dengan tertawa lebar.

Ratusan judul puisi telah Ari ciptakan. Antalogi buku kumpulan puisi dirinya bersama sesama penggiat sastra juga banyak yang sudah disebarluaskan.

Dan sebagaimana yang kita ketahui, selain menekuni sastra, Ari Pahala juga sudah bertahun-tahun menekuni teater. Menjalani dua bidang seni, menurutnya, adalah cara menciptakan keseimbangan dalam kehidupannya. “Ketika menulis puisi, saya adalah orang yang individualis dalam berkarya. Namun, saat berteater, saya dituntut untuk dapat bekerja sama dengan orang lain,” ujar suami Yunita Arsianty ini.

  1. Tentang Teater dan Komunitas Berkat Yakin – KoBER

Pada 26 Mei 2002, sekelompok seniman yang dimotori Ari Pahala Hutabarat, mendeklarasikan berdirinya komunitas teater independen di Lampung.  Kegiatan perdananya, pementasan Nyanyian Angsa karya Anton Chekov dengan sutradara Iswadi Pratama. Tempat pementasan, halaman markas Aliansi Jurnalisme Independen  Lampung. Pentas itu merupakan kelanjutan studi realisme yang digagas Ari Pahala dan para alumnus Teater Kurusetra. Komunitas itu bernama Kelompok Sandiwara Berkat Yakin. Tapi pada 2004, diubah menjadi KOMUNITAS BERKAT YAKIN, disingkat KOBER.

Usai pementasan Nyanyian Angsa, Kober bekerjasama dengan Teater Satu menggelar Festival Anton Chekov. Empat lakon Chekov digelar bersama di Taman Budaya Lampung, selama tiga hari, 2002.  Nyanyian Angsa disutradarai Iswadi Pratama, Kisah Cinta Hari Rabu disutradarai Ari Pahala Hutabarat, Pinangan digarap Imas Sobariah, dan Penagih Hutang digarap Ahmad Jusmar.

Ari Pahala, Direktur Artistik sekaligus guru spiritual di Kober, yang pada akhir 2004 merumuskan kembali visi dan misi termasuk ruang lingkupnya. Kober kemudian dipahami sebagai sebuah komunitas kebudayaan independen. Pemakaian kata komunitas didasarkan pada sifatnya yang dianggap lebih intim sekaligus lebih terbuka. Dan label sandiwara dihapus karena Kober membuka ruang bagi disiplin seni lain yang ingin terlibat.

Jadi, Kober bisa dipahami sebagai ruang silaturahmi yang mempertemukan seni dan pemikiran. Kober diharapkan mampu memasuki arena pergulatan dan pergaulan kesenian, tradisi atau modern, dengan teater sebagai basis utamanya. Kober memandang, sekat-sekat yang membatasi antara seni dan non-seni;  antara teater dan senirupa, musik, tari, arsitektur, antara seni dan ritual, politik, ekonomi, mutlak dihapus, paling tidak pada tataran gagasan. Oleh karenanya komunitas ini didesain agar bisa menjadi standar penciptaan teater di Lampung dan Sumatera.

Visi Kober dirumuskan sebagai komunitas kebudayaan profesional yang berbasis seni, pembelajaran, dan kesadaran dengan berorientasi pada kualitas penciptaan dan solidaritas kemanusiaan. Bentuk-bentuk kegiatan atau programnya haruslah selaras dengan visi tersebut.

Sedang misinya; (1) Menjadikan pengkajian keilmuan yang berorientasi pada peningkatan kesadaran, kualitas penciptaan dengan teater dan sastra sebagai basis utama. (2) Menjadi media alternatif bagi pembelajaran dan peningkatan kesadaran setiap anggota dan publiknya. (3) Mendokumentasikan dan mempublikasikan beragam hasil kajian, kreativitas, dan ekspresi seni tersebut kepada masyarakat. Dan menjadikan setiap aktivitas, peristiwa kesenian, sebagai perayaan bersama, ruang silaturahmi, serta membina integritas diri. Bengkel Teater Rendra, merupakan salah satu model yang hendak ditiru Kober.

Kober selalu mampu menampilkan pementasan yang segar, menggelitik dan seru. Semangat belajar dan penciptaan anggota Kober adalah; berpikir serius, bersikap romantik, bertindak rock’n roll. Pada setiap pementasan Kober, bangku penonton di Taman Budaya selalu penuh dengan penonton yang sebagian besar dari kalangan mahasiswa.

Kedekatan Ari pada ajaran agama dan puisi, melahirkan pementasan Wu Wei dan Siapa Nama Aslimu, 2007. Pergelaran ini mengusung gaya realis, surealis, absurd, seni peran, grafis, campurbaur dalam satu pementasan, dipanggungkan serentak, seakan sebuah ensiklopedi gaya pemanggungan teater. Satu adegan menonjolkan karakterisasi tokoh dan peristiwa yang di alaminya, pada adegan lain lebih mengedepankan komposisi, di adegan lain lagi malah menggabungkan keduanya. Minimalis, sublim, dan segar, seperti puisi. Aktor ditempatkan sama dengan set, warna, cahaya, musik. Lalu, semuanya hadir di panggung sebagai komposisi. Banyak kalangan menilai pementasan Wu Wei adalah puisi di panggung teater. Teater puisi.

Selain itu, Ari bersama beberapa aktor KoBER sejak Juni 2010 mencoba cara ini untuk mengatasi hambatan keterbatasan aktor dan model pembelajaran aktor-aktornya. Mikro teater adalah pertunjukan yang berdurasi 5 sampai 20 menit. Mikroteater KoBER telah di pentaskan di tiga tempat dan mendapat sambutan dari pelaku-pelaku teater kampus. Selain di Universitas Lampung pada akhir Juli dan Oktober 2010, pada 13 November yang lalu KoBER juga menggelar 2 pementasan mikroteater, dilanjutkan roadshow ke 10 kabupeten/kota se-Lampung sepanjang bulan November 2010 hingga Oktober 2011. Produksi Mikroteater yang telah dihasilkan adalah: Tua karya Putu Wijaya, Merdeka karya Putu Wijaya, Bara di Hamparan Salju karya Oesman Saadi,   Hati yang Meracau karya Edgar Allan Poe, Tumbuh karya Ari Pahala Hutabarat, dan Kehendak menjadi Hening karya Ari Pahala Hutabarat.

Pergelaran dengan bentuk teater mini ini merupakan presentasi dari proses keaktoran dan penciptaan teater yang berlangsung sejak Juni 2010. Masing-masing aktor menentukan naskah dan proses penciptaan yang mereka kelola sendiri; dari pemilihan naskah, pengembangan gagasan, struktur/notasi pertunjukan, perwujudan idiom-idiom kreatif sampai strategi dan bentuk presentasi karya di depan publik. Mikroteater merupakan salah satu strategi penciptaan teater KoBER di masa mendatang dan bisa dikembangkan oleh komunitas/kelompok lain. Pertunjukan yang pendek tetapi mantap, berkesan, dan dahsyat. Demikian landasan pemikiran Ari Pahala ketika menghadirkan wacana mikroteater.

Pada tahun 2012, Ari Pahala mengangkat lakon The Song Of Dayang Rindu. lakon yang dipentaskan tiga kali berturut-turut dari 30 Maret 2012, 16-17 Juni 2012 (Peraih Hibah Seni kelola-Kategori Inovatif), hingga 1 – 2 Desember 2012 yang mendapat sambutan yang sangat baik dari masyarakat. Riset teks dan geraknya masih berlangsung hingga saat ini.

Dayang Rindu adalah program jangka panjang KoBER. Usai proses Dayang Rindu pertama (2012) kemudian berlanjut pada ekplorasi yang lebih jauh dan dalam. Baik dari aspek teks maupun bentuk-geraknya. Program yang dia diberi nama ’Lelaku; Pelacakan arkeologi terhadap tubuh/gerak yang paling primordial dari seni pertunjukan tradisi Melayu di Sumatera.’

Kegiatan ini terbagi dalam beberapa tahap. Pada tahap ini ruang lingkupnya dibatasi, yaitu dengan memfokuskan pada pelacakan tubuh/gerak dari seni pertunjukan tradisi yang ada di Provinsi Lampung baik dalam bentuk tarian, silat, maupun bentuk ekspresi seni lainnya. Setelah Lampung, baru ruang lingkupnya diperluas menjadi Sumatera Bagian Selatan (Lampung, Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu), setelah itu ke semua wilayah Sumatera.

Proses ini juga menelurkan ide untuk mencari bentuk paling primordial dari penghadiran teater, sebagaimana proses dan riset yang telah dilakukan Stanislavski maupun Grotowski. Kegiatan ini disebutnya Proto-Teater, yaitu pelacakan terhadap tubuh/gerak dianggap ekspresi paling primordial dari aktor-manusia. menurutnya setiap tubuh menyimpan memori-memori tentang leluhur dan tradisinya. Akan tetapi karena jarang dikunjungi usaha untuk kembali menjalin komunikasi dengan memori-memori primordial itu jadi sulit terjadi. Lalu tubuh-tubuh itu terperangkap dalam ego-stereotipe tertentu tanpa disadari.  Tubuh-tubuh yang kemudian seperti lupa dengan masa lalunya sendiri.

Karena itu ia mendorong KoBER agar tak fokus pada produksi-pementasan semata, namun lebih menitik beratkan pada aspek riset atau kajian terhadap teater itu sendiri, pada pemberdayaan individu, disiplin pelakunya. Sampai pada titik tertentu, Ari berharap teater bisa menjadi sebuah jalan, menjadi media bagi pelakunya untuk mengenali, melatih dan menemukan potensi terbaiknya.

  1. Tentang Sekolah Menulis di Lampung

Ari bercerita pada suatu ketika ia bersua beberapa guru bahasa, baik di kampus, di berbagai workshop dan pelatihan penulisan. Meski kerap mengajarkan teori menulis paragraf, ternyata ketika praktik sang guru kesulitan untuk menulis paragraf dengan tepat. Dari pengalaman “aneh” itu Ari berkeinginan mendirikan sekolah khusus menulis di Lampung dengan nama KoBER’s Writing School, pada tahun 2014.

Kebutuhan untuk mendirikan sekolah menulis juga didasakan pada fakta bahwa minimnya jumlah sastrawan yang berasal dari Lampung di tingkat Nasional.

Hingga saat ini, menurut Ari, Lampung jauh tertinggal dalam khazanah kesusastraan dibanding dengan daerah lain di Sumatera yang sama-sama kental budaya Melayunya, seperti Riau, Sumatera Barat, Medan, ataupun Aceh. Padahal, kata Ari, menulis adalah salah satu tanda peradaban suatu daerah. Ia yakin Lampung akan jauh lebih maju jika banyak memiliki penulis. Menulis menurutnya akan memperbaikin sistem penalaran setiap orang.

“Jika nalar orang-orangnya baik akan menjadi kemajuan, akan tetapi jika nalarnya tidak baik yang terjadi adalah kerusakan,“ ujar pria berdarah Batak-Lampung ini.

Ari memahami keinginan besarnya untuk mendirikan sekolah menulis tersebut tak dapat langsung terwujud seperti mudahnya membalik telapak tangan. Ia mengungkapkan untuk mendirikan sekolah tersebut memang membutuhkan lahan dan infrastruktur yang mendukung, seperti gedung dan ruangan kelas.

Sedangkan untuk tenaga pengajar, dia berharap para seniornya yang sejak dahulu sudah bergelut dengan bidang sastra, seperti Ahmad Yulden Erwin, Riffian A Chepy, Iswadi Pratama, Isbedy Stiawan ZS, dan lain-lain akan turut membagikan ilmunya.

“Namun saya optimistis dengan usaha dan semangat, bersama rekan-rekan seperjuangan di dunia seni dan sastra, cita-cita mendirikan sekolah menulis di Lampung ini segera terwujud. Sekolah menulis pertama dan satu-satunya di Lampung,” ujarnya.

Ari paham betapa penting peran sekolah menulis Lampung nantinya jika sudah berdiri. Meskipun secara budaya Lampung memang kaya akan budaya lisan, secara budaya tulisan Lampung masih sangat terbatas. Ia khawatir jika budaya lisan tersebut tidak dituliskan, suatu saat akan punah. “Dengan menuliskannya, budaya itu akan abadi,” ujar pria berzodiak Virgo ini.

  1. Tentang Ari pahala Hutabarat

ARI PAHALA HUTABARAT, biasa di panggil Ari, kerap juga dia dipanggil Ucok adalah lelaki berdarah Medan dan Lampung. Putra Arman Hutabarat dengan Ringgasui ini, lahir di Palembang, 24 Agustus 1975.

Alumni FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Lampung dan sekarang sedang menempuh Program Pasca Sarjana di tempat yang sama. Ia mengagumi—terinspirasi oleh Jerzy Grotowski dan Gurdjieff, sedangkan metode spiritual yg dijalaninya saat ini adalah SUBUD.

Kiprah pertama Ari di teater bersama Teater Kurusetra, kelompok yang bernaung di bawah Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Universitas Lampung. Dia belajar teater secara otodidak, melalui buku, pengalaman pentas, dan menonton pementasan. Dalam berteater, Ari meneladani Putu Wijaya yang menggunakan semangat, ‘Berangkat dari yang ada – desa, kala, patra’. Sebagai sutradara, dia cerewet, tegas, dan tak suka kompromi untuk masalah kualitas.

Sesudah mendirikan Komunitas Berkat Yakin, namanya kian melambung. Ada yang bilang, Ari adalah salah satu sutradara paling berbakat yang dimiliki Lampung. Proses berteater, menurut Ari, merupakan media yang tepat bagi individu untuk meningkatkan kualitas hidup, latihan bagi individu untuk secara intens dan konsisten mengembangkan diri. Kepada aktor-aktornya dia perkenalkan bentuk-bentuk latihan tertentu, misal, wirid.

Ari Pahala menekuni dua bidang, sastra dan teater. Dan kepada dua seni itulah hidupnya didedikasikan. Meski teater jadi prioritas utama, puisi telah menempatkan namanya sebagai salah satu penyair Indonesia modern. Dia suka teater karena banyak orang yang terlibat dan saling bekerjasama untuk mendukung sebuah cita-cita artistik.

Belakangan ini, pengaruh puisi sangat besar pada karya teaternya. Teater Puisi adalah salah satu impiannya. Puisi dalam teater. Dan itu dia buktikan pada pentas Wu Wei dan Siapa Nama Aslimu, Rumah, Rashomon, dan The Song Of Dayang Rindu (2012).(GB/dbs)

  1. Biodata

Nama               : Ari Pahala Hutabarat

Kelahiran          : Palembang, 24 Agustus 1975

Ayah                : Arman Hutabarat

Ibu                   : Ringgasui Nilam

Isteri                 : Yunita Arsianty Purba

Anak                : Ahmad Tijani Hutabarat

Karya dan Prestasi

  1. Dusta Hantu-Hujan, Siapa Nama Aslimu, 2013.
  2. Hilang Silsilah, antologi puisi dan cerpen sastrawan Lampung, 2013
  3. Akting menurut Sistem Stanislavski, 2012.
  4. Menanam Benih Kata (Tentang Menulis Puisi), 2012.
  5. Monolog Sungai-sungai, Buku Perjalanan, Sungai Bapak 2, Ziarah ke Muasal Luka, Jurnal Kalam, 2007.
  6. Ubud Writers Festival, 2006
  7. Perjamuan Senja (Antologi bersama, DKJ), 2005.
  8. Gerimis (antologi bersama, Logung Pustaka. 2005.
  9. Konser Penyair Ujung Pulau, DKL, 2003
  10. Pesta Sastra Internasional, Teater Utan Kayu-Jakarta, 2003.
  11. Menikam Senja Membidik Cakrawala, 1997.
  12. Dari Huma Lada, 1996
  13. Daun-daun Jatuh, Tunas-tunas Tumbuh, 1995
  14. dll

Naskah Lakon

  1. The Song Of Dayang Rindu
  2. Kekasihku ingin Meraih Hujan dari Jendela
  3. Love
  4. Wu Wei dan Siapa Nama Aslimu
  5. Rumah
  6. dll

Kontak

Komunitas Berkat Yakin

Jalan Karet/Pancasila Sakti No. 20, Lingkungan I, Sumberejo Kemiling, Tanjungkarang Barat, Bandarlampung. Lampung.

Sumber

  1. Database yayasn seni dan budaya kelola
  2. Lampung Post, Jumat, 25 Januari 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *