diskusi sastra

Peluncuran dan Diskusi Buku Puisi karya Tujuh Carik Perca karya Tujuh Penyair Perempuan Lampung

Buku kumpulan puisi berjudul “Tujuh Carik Perca” diluncurkan di Kafe Woodstairs, Bandar Lampung, Rabu, 6 September 2017. Buku tersebut memuat puisi-puisi mini karya tujuh penyair perempuan asal Lampung, yakni Fitri Yani, Hamidah, Iin Muthmainah, Inggit Putria Marga, Liza Mutiara, Nersalya Renata, dan Ruth Marini.

Iswadi Pratama, Penyair dan Sutradara Teater Satu Lampung, menyambut baik kehadiran buku tersebut . Menurutnya, keringkasan dalam puisi bukanlah sekadar mengurangi atau menghilangkan kata dan baris, melainkan bagaimana membuat sebuah momen yang sebentar memuai dan berpendar ke berbagai arah. “Sebaliknya menjadikan yang kompleks dan berlapis seolah terserap dalam satu tarikan nafas belaka,” kata Iswadi.

Lebih lanjut ia mengatakan, tujuh penyair dalam kumpulan puisi itu telah berusaha untuk menghadirkan apa yang ringkas: sebentuk puisi, juga sebuah momen. “Kita, kadang-kadang dibuat tertegun saat membacanya; sebab dibutuhkan sedemikian banyak waktu dan tempat dalam benak juga hati kita untuk menyimpan dan menyusun kembali “keringkasan” dalam puisi-puisi mereka yang tak berperi ini,” ujarnya.

Sementara, Ari Pahala Hutabarat, penyair dan sutradara Komunitas Berkat Yakin (Kober), selau editor, dalam pengantarnya menyatakan bahwa puisi-puisi dalam buku tersebut dimaksudkan sebagai oposisi, yang ingin berhadapan langsung dengan kata sifat-kata sifat yang terlampau ceriwis dan subjek lirik yang terlampau jumawa karena merasa bisa mengatu “dunia”, baik melalui pemikiran maupun perasaannya. “Puisi-puisi mini berusaha menghadirkan yang spasial ketimbang temporal,” kata dia.

Selain di Woodstair Cafe, Diskusi buku puisi Tujuh Carik Perca juga dilaksanakan di Universitas Lampung dan Salihara Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *