Esai teater

Raja Dalam Box

oleh Dendi Madiya*

Raja piknik. Jalan-jalan sambil merebahkan dirinya dalam box container plastik. Blusukan ke hutan  dan desa. “Ingin melihat  penderitaan rakyat,” katanya.

Sebuah permainan teater yang rapi dan mengasyikkan telah dipentaskan Komunitas Berkat Yakin (Kober) pada Pekan Teater  Nasional di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki- Jakarta, 7 Oktober 2018, sore hari. Adegan demi adegan mengalir lancar  tanpa hambatan yang berarti.  Pertunjukan ini berhasil menyihir penonton untuk tetap berada pada tempat duduknya hingga  pentas usai. Penonton cukup dibikin penasaran, kemana alur cerita bergerak? Seperti apakah ending  yang akan terjadi? Tentu saja hal itu tercapai dengan menggunakan elemen- elemen teatrikal yang dikerahkan, seperti akting, pola pengadeganan, teks, tarian, pencahayaan, kostum dan properti, juga musik.

Ramalan saya agak  meleset ketika berpikir Kober akan membawakan naskah LEAR karya Rio Kishida ini ke ranah ruang  asal mereka, yaitu Lampung. Tetapi ternyata saya tidak kecewa karena LEAR versi Kober bagaikan gado-gado yang renyah  dan bergizi. Di dalamnya terdapat ramuan dari beberapa produk  budaya yang datang dari beberapa sudut dunia. Sebuah pertunjukan yang lintas-budaya.

Lagu Paint It Black dari The Rolling Stones berdentum keras. Raja (dimainkan dengan baik oleh Alexander  GB) kelojotan, menceracau, kehilangan kesadaran tentang siapa dirinya. Lalu orang- orang  di sekelilingnya memberikan memori tentang kekuasaan dan kelaparan yang diderita rakyat. Raja bertanya, apakah kelaparan itu? Seperti  orang  yang terlahir ulang, Raja perlu mempelajari kembali  riwayatnya. Putri sulungnya menyarankan Raja untuk berpelesir.

Kehadiran lagu Paint It Black melemparkan saya pada ingatan tentang sebuah film serial yang menghiasi layar kaca stasiun televisi swasta pertama di Indonesia era ’90-an, Tour of Duty. Film yang mengisahkan perang Vietnam: helikopter yang berseliweran dengan tatapan amarah sekaligus kesenduan milik tentara Amerika Serikat di dalamnya. Lagu Paint It Black menjadi lagu tema yang membuka dan menutup setiap seri dari film itu.

Lagu itu juga yang mengejutkan saya di awal pertunjukan. Saya mencari-cari relasi antara lagu yang dipopulerkan oleh kelompok band  asal London itu dengan gambaran tradisi performatifitas narasi ‘kerajaan.’ Tetapi, bukankah ‘raja’ bisa berada di zaman apa  saja dan di wilayah mana pun. Bisa bercokol di sebuah negara hingga  kelompok-kelompok kecil. Bisa menjadi sesuatu yang menggoda untuk dikudeta dan dikontestasikan atau  sesuatu yang tidak dikehendaki sama sekali.

Berikutnya pertunjukan yang disutradarai oleh Ari Pahala Hutabarat ini memang me-reset kecenderungan yang stereotip di benak  saya mengenai bentuk  ketinampilan narasi ‘kerajaan.’ Bahwa singgasana raja bisa berbentuk kursi kantor.  Akting Raja yang ‘membesar’ bisa dipadukan dengan gestur kecil yang mengingatkan pada emoticon medsos, seperti gestur mengacungkan jempol.

Keagungan atau  kekhusyukan narasi ‘kerajaan’ yang sering direpresentasikan dengan tempo lambat dan atmosfir yang menggenang, dikombinasikan bersama gerak  ritmik pencak silat. Pidato Hitler masuk. Begitu pula suara sirene dan siaran radio. Hubungan-hubungan antar  elemen tersebut menjadi pintu untuk ditelusuri usai pertunjukan. Sekaligus semakin menguatkan batas-batas budaya yang kian melebur.

Lear karya Rio Kishida, sutradara Ari Pahala Hutabarat. GBB TIM (7/10) Foto.Chandra Aria

 

Bagi saya, adegan Raja di dalam box container plastik menjadi inti pernyataan dari pertunjukan ini. Tubuhnya yang setengah di dalam dan setengah di luar kotak itu menyarankan perihal kekuasaan yang bisa dibawa ke dalam dan ke luar dirinya. Apakah kekuasaan hanya  berkutat dalam dirinya untuk sekadar menjadi objek rebutan dan menghasilkan pertumpahan darah? Atau kekuasaan bisa dibawa ke luar sebagai pengabdi rakyat? Bergantung kepada siapa pemegang kekuasaan itu dan orang-orang yang berada di sekelilingnya.

*Dendi Madiya (sutradara kelompok Artery Performa dan Bandar  Teater  Jakarta)

Foto: Chandra Aria W (Ukmbs Unila)

 

1 thought on “Raja Dalam Box”

  1. SELAMAT HADIRNYA KEMBALI BERITA2 TEATER LEWAT WARTA SENI.COM

    SANGAT DIPERLUKAN KRITIK SENI TEATER YANG HAMPIR KITA NGGAK PUNYA PAKARNYA. ENTAH KENAPA YA? MUNGKIN BERAT JAL;ANNYA SEPERTI PEKERJA SNEINYA.

    AH LENGKAPLAH KEMISKINAN TEATER INDONESIA YA?
    MARI KITA RAWAT DAN PERJUANGKAN KEHADIRANNYA.
    SALAMKU
    RUDOLF PUSPA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *