Esai sastra

Menggali  Gagasan  Artistik 15 Kota

Oleh Seno Joko Suyono

Siapakah sesungguhnya  aku ? Tidurku dilimbur mimpi buruk yang tak mampu kukenali. Wahai pemusik, tebas akar mimpi burukku dan bukalah mataku. Siapakah sesungguhnya  aku dulu? Tugas pemusik untuk mengembalikan ingatan Raja tua Lear yang hilang  dalam naskah Rio Kishida yang akan dimainkan Komunitas Berkat Yakin Lampung itu sesungguhnya  adalah juga tugas yang diemban teater.

Teater selalu memiliki kemungkinan cara pandang yang lain dalam melihat dan menampilkan realitas yang hilang. Teater senantiasa  mempunyai kemampuan untuk menghasilkan kebenaran  yang tidak bisa direduksi pada kebenaran  ilmu sosial atau laporan jurnalisme. Kebenaran yang disuguhkan teater adalah jenis kebenaran yang intim. Sebuah kebenaran yang menyangkut tubuh, ruang dan imajinasi.

15 kota atau kabupaten asal  kelompok- kelompok teater yang hadir di Temu Teater Nasional ini memiliki riwayat dan realitas  yang sangat berlainan. Demikianlah Flores Timur berbeda dengan Padang Panjang. Sigi ,Sulawesi Tengah berbeda dengan Sumenep, Madura. Ampenan, Lombok berbeda dengan Lampung. Tiap-tiap kawasan ini memiliki morfologi arsitektur, episteme pengetahuan, aksiologi ritual, khazanah kebertubuhan  dan cakrawala kosmologi lokal yang  khas.

Adalah menarik melihat bagaimana  pergulatan artistik masing-masing  sutradara   menghadapi fenomena-fenomena sosial dan budaya, yang saling berkelindan antara masa lalu, masa kini dan masa depan di kota dan kabupatennya masing-masing. Sudah lama sekali di Taman Ismail Marzuki tidak diadakan  pertemuan  besar teater antar kota.  Pertemuan teater antar kota kiranya penting  karena kita bisa meraba dan menakar seberapa  jauh  inovasi dan peluang-peluang artistik yang muncul dari perkembangan terbaru kota-kota dan kabupaten-kabupaten kita.

Tak syak   dalam kehidupan sehari-hari kita kini makin terjepit dalam peristiwa-peristiwa yang bergerak serba serentak, simultan menyergap dari berbagai arah waktu. Pertarungan- pertarungan  merebut masa depan,  di sebuah kota atau kabupaten bisa tiba-tiba bangkit dalam paham-paham sensibilitas masa lalu. Sebagai bagian dari warga global di era  Post- Truth ini, kita menghadapi persoalan yang sama sekali tidak dihadapi generasi sebelumnya seperti tsunami informasi-informasi hoax. Tapi sekaligus kita masih membaca masalah itu merupakan bagian dari   residu-residu masa silam yang belum tuntas.

Penting maka dari itu untuk mengamati isyu- isyu apa yang diambil oleh masing-masing kelompok teater. 15 kelompok teater yang tampil dalam pertemuan  ini dipilih dari  sanggar sampai kampus. Rata-rata  adalah generasi teater dari periode tahun 2000-an. Adalah menarik melihat bagaimana anak-anak  muda ini mengungkapkan gagasan  mereka ke panggung. Apakah mereka memiliki sudut pandang dan metode yang mampu membebaskan diri dari cara berpikir konvensional sejarah seni di kota atau kabupatennya  masing-masing  atau tidak.

Seorang seniman  yang kreatif pada dasarnya selalu  terlibat dalam pergulatan  tegangan antara bentuk dan isi. Sering seorang seniman memiliki gagasan-gagasan artistik yang brilian namun dalam pelaksanaan  eksekusinya kedodoran. Sebaliknya ada sebuah karya yang dari sisi pemikiran sederhana  namun perwujudan bentuknya mencengangkan. Sesungguhnya perjuangan seorang seniman dalam mengartikulasikan isi ke bentuk  adalah perjuangan  melawan klise. Seni memang tidak melulu memiliki tujuannya sendiri. Seni memang tidak selalu mengejar kebaruan. Namun tanggung jawab seorang seniman juga adalah menolak ikut membuat situasi kesenian mengarah ke kondisi involutif.

Adalah menyenangkan  maka menyaksikan beberapa  repertoar dalam Pertemuan Teater Nasional 2018  ini berbasis dari pertanyaan- pertanyaan  yang tak terduga. Teater Language Madura misalnya membuat skenografi yang bertolak dari renungan mengapa tidak seperti rumah-rumah  di Jawa, rumah-rumah  Madura tak memiliki pintu belakang. Pintu samping kanan kiri mungkin ada tapi tidak pintu belakang.  Mereka kemudian merencanakan membuat panggung  serupa catwalk yang membelah penonton. Penonton hanya bisa melihat peristiwa di panggung dari sisi samping kanan kiri . Akan halnya Teater Nara Flores Timur berangkat dari nyanyian rakyat dan mantra- mantra   Lamaholot. Sering kita menganggap sepenuhnya Flores adalah sebuah kawasan katolik . Hidup sehari-hari dilaksanakan dengan arahan nilai-nilai Katolik. Kita lupa bahwa di sana agama lokal Lamaholot sesungguhnya masih kuat tertanam. Katolik memang merupakan agama resmi. Namun sebagaimana ditunjukan Teater Nara, kepercayaan warga akan dimensi-dimensi rohani Lamaholot meresap di semua ihwal termasuk tatkala melakukan perlawanan terhadap soal-soal perkebunan dan tanah.

Sementara Teater Sirat Solo yang mengambil tema urban  merefleksikan konsumerisme dengan cara unik. Pentas menampilkan  adegan berbagai jenis pakaian lalu lalang di langit panggung dan   berbagai manekin-manekin di lantai. Atau kelompok Teater Bel dari Bandung yang memotret fenomena Nomophobia (No Mobile Pone Phobia). Nomophobia adalah suatu kondisi psikologis dimana kecemasan akan terjadi pada seseorang  bila ia tidak dapat mengakses telpon selularnya. Suatu kondisi keetakutan kehilangan informasi penting. Mungkin kemajuan–kemajuan digital dan media sosial  yang membuat masyarakat makin hari menggelinding ke arah yang tak dapat diprediksi membuat Teater Ghanta ingin melakukan kerja perfomatif – melakukan pembacaan ulang atas ceramah almarhum Sutan Takdir Alihsjahbana di tahun 1970 berjudul: Masyarakat Kebudayaan Dunia yang sedang Tumbuh dan Kedudukan Indonesia di dalamnya. Takdir adalah seorang rasionalis yang menginginkan agar bangsa ini lebih banyak mengambil nilai-nilai barat: teknologi. Teater Ghanta melakukan kerja kreatif  pembacaan  dengan cara membaca pemenggalan kalimat-kalimat Takdir  dengan berbagai kecepatan tempo , jeda dan nafas.

Kini dalam ranah teater kontemporer dunia, para eksponen avant garde, selalu berusa memperluas batas-batas teater. Definisi teater belum dinyatakan selesai. Dewasa ini medan dan ekosistem  seni tidak lagi saling eksklusif berdiri sendiri sendiri dalam pengkotak-kotakkan. Dinding-dinding antar disiplin seni tidak lagi tebal. Antar seni bisa merasuk ke seni lain. Demikian juga yang terjadi pada teater . Unsur- unsur apapun bisa  meresap dan beranak pinak dalam tubuh teater.

Idiom-idiom tari, performance, visual art sampai sirkus atau akrobat  bisa dicangkokkan dan dimutasikan dalam teater.  Teater juga dari segi bahasa makin terbuka memanfaatkan penelitian-penelitian filologi terkini tentang tata kalimat atau refleksi filsafat bahasa yang mempertanyakan  bahasa sendiri . Adalah tak mengherankan dengan kondisi teater yang makin menjadi wadah bagi pertemuan  berbagai disiplin seni  itu muncul sikap dalam  debat estetika kontemporer bahwa pencapaian sebuah teater  tak bisa lagi ditakar dari parameter  hal- hal  ekstenal di luar teater  misalnya bagaimana relevansi politik. Bagus atau bermutunya  suatu karya seni harus ditakar dengan bagaimana kelompok teater itu mampu memberi alternatif terhadap praktik-praktik  seni sebelumnya termasuk kemampuan mengelola  dan mengolah unsur-unsur internal  seni dan bahasa yang saling bersilangan tersebut.

Mungkin sikap ini terlalu ekstrem. Karena bagaimanapun di sini seni bukanlah sesuatu yang tumbuh  otonom sebagaimana  di barat. Tapi seharusnya teater-teater kita  siap dengan kemungkinan saling silang demikian karena pada dasarnya teater-teater tradisional kita sejak dulu sudah berbasis pada dramaturgi yang penuh percampuran unsur seni.  Bahkan pada Teater Patapuang kerja lintas batas idiom-idiom seni bukan saja terjadi di wilayah pemanggungan tapi juga medan penonton. Teater ini dikenal secara luwes bisa tampil di situasi penonton apapun tanpa pandang bulu . Mereka bisa pentas di sebuah  festival yang terkurasi tapi juga bisa manggung di acara pengantenan. Meski malang melintang di pentas-pentas gedung kesenian mereka tak segan tampil di acara peresmian kantor, penyuluhan hukum, pemberdayaan  perempuan , ceramah kesehatan, lokakarya budi daya rumput laut sampai acara hiburan ulang tahun anak pejabat dan perpisahan sekolah.

Harapan kita adalah bagaimana pertemuan Teater Nasional yang digagas oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan ini bukan hanya sekedar inventarisasi atau pemetaan terhadap keberagaman  teater di nusantara.

Pertemuan ini dilatari keyakinan bahwa 15 sutradara   yang diundang mempunyai potensi untuk melahirkan  ide  segar  dan memiliki kemampuan menyebarkan virus kreatif  di kota atau kabupatennya  masing-masing. Virus agar para aktivis teater berani untuk terus menerus memperluas batas-batas dan bentuk artistik teater .

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *