Esai teater

Membaca Festival Teater Anak Tubaba 2018

Anak-anak sebagai Subyek Kota

(Esei pengantar Festival Teater Anak Tubaba 2018)

Oleh Nyoto Subbroto

Dalam usia 9 tahun Kabupaten Tubaba telahbergerak maju melebihi usianya. Sebagaimana galibnya kabupaten baru, setiaptahuninfrastruktur kota diperluas cakupannya. Kabupaten yang secara parodis disebut oleh warganya sendiri sebagai kabupaten bukan-bukan (bukan lintasan dan bukan tujuan), selain membangun sarana primer juga membangun ruang-ruang publik yang inspiratif, semisal komplek Islamic Center dan Tugu Rato Nago Besanding. Ruang-ruang publik itu tidak berhenti sebagai situs belaka, melainkan diisi dengan program yang menyasar pada peningkatan akal budi masyarakat. Maka dalam konteks ini terasa upaya pemerintah kabupaten Tubaba yang memiliki jargon Terdepan Optimis dan Pasti Maju (TOP) bukanlah mitos belaka.

Pembangunan sebuah kota tentu saja tidak mungkin hanya dikerjakan oleh segelintir komponen saja, tidak mungkin hanya dikerjakan oleh kalangan pemerintahnya saja, seorang Bupati bukanlah single fighter, tidak mungkin dilakukan hanya oleh wakil rakyatnya saja, ulamasaja, pengusaha, hanya oleh petani atau hanya kalangan pendidik. Tidak mungkin pula hanya dibangun oleh kalangan usia tertentu, hanya oleh orang tua atau pun para pemuda semata. Merupakan hal mustahak subjek sebuah kota adalah seluruh komponen masyarakatnya, di dalamnya termasuk anak-anak. Penafian anak-anak sebagai subjek pembangunan sebuah kota mestilah dihentikan, sebab mereka memiliki hak dengan keunikannya sendiri, untuk tumbuh sebagai individu yang kuat sekaligus pemilik masa depan sebuah kota. Anak-anak Tubaba mesti dilibatkan dalam pembangunan kota ini, sebab siapa lagi pemilik kota ini di masa depan kalau bukan Mereka?

Berdasarkan pemikiran tersebut Studio Hanafi, tahun ini menggagas program-program pelatihan kesenian bagi anak-anak, setelah dua tahun sebelumnya secara konsisten cenderung menyasar pada usia remaja dan masyarakat dewasa. Kerja ini bukan tanpa alasan, demi membangun ekosistem kesenian yang relatif stabil, maka diperlukan penciptaan mata rantai kesenian yang lebih panjang. Telah dua tahun program ini berjalan, telah 10 pementasan teater digelar, puluhan remaja telah terlibat dalam program ini, maka kini diperlukan sebuah generasi yang lebih dini untuk melapisi generasi remaja tersebut, generasi yang ruang kreatifitasnya dibatasi kurikulum sekolah menengah atas sehingga waktu kreasi mereka terlampau singkat. Alasan lain tentu adalah hak anak-anak, terutama dalam program ini usia antara 7-12 tahun, masa-masa awal saat nalar kritis tumbuh dalam benak, juga suatu fase mereka begitu bergairah mengeksplorasi diri mereka. Maka memberikan suatu wadah kreatifitas pada anak-anak usia ini adalah suatu yang sewajarnya.

Sejak dua bulan silam program ini dimulai dengan sebuah workshop teater anak.Di bawah besutan Bahar Merdu, seorang sutradara teater anak berpengalaman dari Makassar. Diikuti oleh 35 peserta, rata-rata guru sekolah dasar. Dari komposisi peserta workshop itu, setidaknya terbersit harapan bahwa teater anak bisa tersebar di sekolah-sekolah dasar di seluruh Kabupaten Tulang Bawang Barat. Bayangkan jika sebuah kota yang secara geografis didominasi tanah kering, cuaca yang panas, banyak dipenuhi kebun karet dan sawit tiba-tiba hadir kreativitas teater anak tentu akan menumbuhkan satu atmosfir kota yang ceria, bersemangat, penuh warna dan bergairah.

Kami pun sadar tidaklah cukup untuk membangun atmosfir yang dibayangkan hanya dengan workshop tiga hari, akhirnya kami harus puas hanya dengan tiga grup yang akhirnya bisa memproduksi pementasan teater, itu pun tentu sudah sangat kami syukuri. Tiga grup tersebut adalah Sanggar Pakem, sanggar yang beberapa tahun ini cukup antusias dalam berbagai bidang seni, Teater Klatak, grup Teater yang tumbuh dari kelas pengajian Alqur’an Roudhotul Ulum, Tirta Kencana dan Teater Anak Kencono, grup yang tumbuh dari aktivitas bermain di sekitaran Balai Tiyuh Margo Kencono.

Sanggar Pakem dengan lakon “Monster Tivi di Kampung Kami” memulai peristiwa teaternya dengan dolanan anak-anak kampung di antara instalasi-instalasi bambu, kemudian Monster Televisi masuk di centrum panggung, anak-anak beralih perhatiannya pada monster yang pandai membujuk anak-anak dengan produk hasrat, secara parodis ditampilkan iklan smarthphone terbaru, tayangan gulat WWF dan iklan kosmetik. Anak-anak tidak lagi bermain dolanan, tidak pula memainkan permainan tradisional yang menuntut kerjasama sehingga membangun mental kolektif, anak-anak berubah menjadi individualis, egois dan narsis. Beberapa orang dari TPA mengingatkan anak-anak, hingga akhirnya mereka sadar bahwa bujuk rayu televisi adalah racun yang harus diobati. Kembalilah anak-anak itu bermain dolanan, belajar dan mengaji.

Plot dramatik yang hampir sama juga dibawakan oleh Teater Klathak, tiga santrimembandel, tidak mengaji dantenggelam dengan gamesdi dalam smarthphone mereka. Kelelahan dalam pertempuran di dalam games mereka ketiduran, hingga akhirnya bermimpi buruk. Terjadilah sebuah teater akhirat di dalam mimpi, mereka dikejar-kejar monster, berharap pertolongan terakhir mereka memohon pada Al-Qur’an, tapi Al-Qur’an menolak “Kenapa saat terdesak kalian membutuhkan aku, padahal kalian tidak pernah membaca aku?” saat kembali ke alam nyata tiga bocah ini menyadari betapa pentingnya mengaji dan meskipun dalam mimpi pengalaman diburu monster adalah hal yang tidak diinginkan.

Strategi personifikasi juga terdapat dalam “Nandur Pari Isir Sumilir” garapan Teater Anak Kencono. Sebuah Buku datang di antara sawah dan rumah, mengingatkan para petani sungguh pun panen mereka berlimpah agar tidak berhenti belajar, sebab penyakit pertanian akan selalu ada di setiap waktu. Penyakit-penyakit mutakhir pertanian yang kemudian bersisian dengan penyakit sosial: maling! Para petani yang sedang menunggu musim panen hampir kehilangan hasil tani mereka, untungnya para petani yang kompak berhasil menggagalkan pencurian. Tapi dengan baik hati para pencuri itu tidak dihukum, para petani hanya menasihati mereka bahwa untuk mendaptkan rezeki yang halal mestilah melalui kerja keras. Menunjukan bahwa sebuah hukuman pada hakikatnya bukanlah untuk membinaskan melainkan merawat, seperti halnya para petani yang dengan sabar merawat sawah mereka.

Tiga teater ini dengan keterbatasannya mencoba membuat kritik dan otokritik terhadap lingkungan mereka sendiri, kegelisahan dari usia belia, ditampilkan secara estetis bagi lingkungan faktual. Apapun, mereka telah berusaha menampilkan persoalan yang juga sebenarnya adalah persoalan kota ini, dan barangkali kota-kota yang lain di negeri ini. Perkara kearifan lokal yang digerus kebudayaan global, kebutuhan mereka akan ruang bermain, teknologi infomasi yang edukatif, juga nasib para petani yang tak lain adalah ayah dan Ibu mereka sendiri. Demikianlah Teater telah menjadi ruang bermain (yang sungguh-sungguh) bagaimana anak-anak menjadi subjek kota ini, dari kritisisme mereka di atas panggung ada yang layak kita renungi bahwa kebersamaan, empati dan kasih sayang lebih penting daripada sifat individual yang egositis dan narsis, bahwa belajar secara sungguh-sungguh jauh lebih bermanfaat dibanding kesenangan sesaat. Demikianlah sebaiknya sebuah kota diciptakan.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *