Esai sastra

Membaca Buku Puisi REKAMAN TERAKHIR BECKETT (2)

Inovasi, baik di dalam seni maupun sains, mesti memiliki landasan teoritis yang kokoh, sehingga dengan itu orang yang memiliki kompetensi—siapa pun orangnya—bisa menguji-nya. Hasil dari pengujian itu hanya ada dua, yaitu: terbukti inovatif atau tidak terbukti inovatif. Oleh karenanya, sebuah klaim inovasi di dalam seni atau sains harus memiliki lan-dasan teoritisnya. Ketika Einstein menyanggah teori gravitasi Newton, maka ia menyang-gahnya dengan teori relativitas umum. Teori relativitas umum dalam fisika modern adalah satu inovasi yang pembuktiannya bertolak dari teori geometri Brenhard Reimann.Di dalam seni, misalnya, ketika pelukis post-impresionis Paul Cezanne dari Prancis pada abad ke-19 menyanggah teori seni lukis realis yang dibangun oleh prinsip satu perspektif, maka Paul Cezanne mengeluarkan teori dual-perspektif. Kemudian teori dual-perspektif ini menginspi-rasi Pablo Picasso untuk menciptakan teori multiperspektif dalam seni lukis kubisme.

Di dalam puisi modern, pada awal abad ke-20, penyair Ezra Pound dari Amerika Serikat, ketika hendak menyanggah teori metrum klasik dan romantik, maka ia mengeluarkan teori metrum berkaki bebas. Timbulnya teori metrum berkaki bebas ini telah membebas-kan puisi-puisi Amerika Serikat dari sintaksis puitik yang terikat oleh metrum (seperti pada puisi-puisi klasik dan romantik di Eropa) dan memungkinkan munculnya “sintaksis puitik yang prosaik”, sintaksis puitik yang lebih bebas, seperti pada puisi-puisi imajisme dan objek-tivis di Amerika Serikat.

Pilihan Ari Pahala Hutabarat untuk mengambil bentuk pengucapan bergaya prosa, pada kumpulan puisi Rekaman Terakhir Backet, menurut saya merupakan upaya perluasan penggunaan sintaksis puitik dengan pola metrum berkaki bebas hasil temuan Ezra Pound. Upaya Ari ini bukan hal baru dalam dunia puisi Indonesia, sebab Goenawan Mohamad, Sa-pardi Djoko Damono, dan Taufik Ismail telah menggunakan teknik sintaksis puisi prosaik pada era 70-an. Namun, Ari mengembangkannya lebih jauh lagi dengan mencoba menyusun sintaksis puitik ke dalam pola-pola kalimat luas yang bertumpu pada klausa, misalnya pada kalimat pembuka puisi “Tom yang Selalu Menunggu” berikut ini:

seorang lelaki merasa dirinya adalah seekor musang yang sedang mengintai tiga merpati di depan tikungan sebuah jalan.

Kalimat di atas menggunakan pola kalimat luas yang dibangun oleh tiga klausa, yaitu: klausa verba, klausa nomina, dan klausa preposisional. Namun, uniknya, setiap objek pada klausa sebelumnya ditransformasi menjadi subjek pada klausa sesudahnya. Contoh pada klau-sa nomina berikut ini: “dirinya adalah seekor musang”, di mana objek dari klausa itu (seekor musang) kemudian ditransformasi menjadi subjek pada klausa berikutnya (klausa verba): “seekor musang yang sedang mengintai tiga merpati”. Pola sintaksis puitik seperti di atas kerap ditemukan pada puisi-puisi Ari dalam kumpulan ini.

Selain itu,puisi-puisi Ari Pahala di dalam kumpulan ini, menurut pembacaan saya, tetap menggunakan irama puitik (meski bukan rima akhir larik) dan tetap memainkan konvensi-konvensi majas seperti metafora, simbol, dan imaji dengan tepat. Mari kita tinjau perihal penggunaan majas pada puisi Ari. Untuk kita bisa mulai dengan pendefinisian bahasa figuratif dan makna figuratif dulu. Mari kita gunakan pendefinisian dari Abrams saja:

“Figurative language is a deviation from what speakers of a language apprehends as the ordinary, or standard, significance or sequence of words, in order to achieve some special meaning or effect.” (Abrams, M.H. 1981. A Glossary of Literary Terms. New York: Holt Rinehart and Winston).3)

Jadi, menurut Abrams bahasa figuratif (figurative language) adalah penyimpangan penggunaan bahasa oleh penutur dari pemahaman bahasa yang dipakai sehari-hari (ordinary), penyimpangan dari bahasa standar, penyimpangan makna kata, atau suatu penyimpangan rangkaian kata supaya memperoleh beberapa arti khusus.Kata “deviation” dari definisi Abrams itu kemudian ditafsirkan oleh Prof. Kridalaksana sebagai “perluasan”, khususnya dalam konteks perluasan makna kata atau kelompok kata untuk memperoleh efek tertentu dengan membandingkan atau membagi serta mengasosiasikan dua hal.

Pertanyaannya, bagaimana “operasi” dari deviasi atau perluasan makna itu dilakukan dalam metafora? Jawabnya: melalui prinsip-prinsip logis di dalam logika Aristoteles. Aris-toteles mempergunakan kata analogi dengan pengertian kuantitatif maupun kualitatif. Dalam pengertian kuantitatif, analogi diartikan sebagai kemiripan atau relasi identitas antara dua pasangan istilah berdasarkan sejumlah besar ciri yang sama. Sedangkan, dalam pengertian kualitatif, analogi menyatakan kemiripan hubungan sifat antara dua perangkat istilah. Dalam arti yang lebih luas, analogi lalu berkembang menjadi bahasa kiasan, dan metafora dikate-gorikan oleh para ahli bahasa sebagai kiasan yang bersumber dari analogi kualitatif pada logika Aristoteles. Namun, yang perlu dipahami, baik analogi kuantitatif dan kualitatif tetap mendasarkan kemiripannya pada prinsip identitas dalam teori korespondensi. Karenanya saya menyatakan dalam tulisan-tulisan saya sebelumnya bahwa metafora masih merupakan bagian dari “teks realisme”. Kenapa? Karena dasar “pembuktian” atau verifikasi dari penyimpangan atau perluasan makna dalam metafora tetaplah realitas empiris atau behavioristis, sesuai dengan prinsip identitas dalam teori kebenaran korespondensi.

Berikutnya, soal patafora sebagai perluasan dari metafora. Dasar operasi pembuktian ketepatan patafora bukanlah realitas empiris, melainkan realitas metaforis. Metafora diletak-kan sebagai semacam aksioma atau postulat dalam pembuktian koherensi dari patafora. Efek yang dihasilkan bukanlah perluasan makna seperti dalam metafora, melainkan “semacam per-luasan emosi” atau “membuka cara berpikir baru” demi makin mengintensifkan makna meta-foris. Jadi, operasi perluasan itu lebih ke arah “permainan bahasa” atau tanda yang mengam-bang bebas (dari pemaknaan denotatif).

Contohnya, dalam metafora hewani (yang belum jadi “metafora bangkai”) di Indonesia dikenal istilah “buaya darat”. Operasi penyimpangan atau perluasan makna dari metafora itu adalah deviasi dari makna denotatif kata “buaya” dan “darat” untuk menyatakan makna deno-tatif seorang playboy misalnya. Nah, sekarang bagaimana jika metafora itu hendak diperluas menjadi patafora, menjadi imajinasi, untuk menghasilkan efek psikologis tertentu bagi yang membacanya? Jawab: buaya darat itu digambarkan tiba-tiba menjadi buaya sungguhan yang, entah bagaimana caranya, terlempar ke neraka. Di neraka, buaya darat itu pun berdialog de-ngan iblis, dst.

Apakah imajinasi bisa dijelaskan dengan teori logika (bukan dengan teori berpikir da-lam psikologi)? Bisa dan usaha itu sudah lama dilakukan pada abad ke-20. Salah satunya dilakukan oleh Niiniluoto dalam satu kertas kerja ilmiah yang berjudul “Imagination and Fiction” pada Journal of Semantics-Oxford, tahun 1985. Niiniluoto memperkenalkan satu operator logika, meski mendapat banyak kritik di kalangan logikawan dunia, untuk imajinasi dengan notasi “I” (sering juga digunakan notasi “O”). Logika imajinasi itu dibangun dari satu aksioma dengan menggunakan sistem aksioma Hilbert dalam matematika, begini:

  1. I(ϕ → ψ) → (Iϕ → Iψ);
    2. I(ϕ∧ ψ) ↔(Iϕ∧ Iψ);
    3. Dari ⊢ ϕ, didapatkan ⊢ Iϕ;

Niiniluoto menyatakan bahwa aksioma di atas adalah konsekuensi dari kondisi seman-tik berikut (menggunakan tata bahasa kasus dan logika modalitas): agen satu imajinasi φ di ψ jika dan hanya jika φ benar dalam semua kemungkinan dunia yang terjadi secara bersama tanpa konflik dengan satu imajinasi di ψ.

Jean-Yves Beziau dalam makalahnya yang berjudul “Tutorial on Negation Contradic-tion and Opposition” kemudian mengkritik pendekatan aksioma Niiniluoto di atas. Ia menya-takan bahwa sebuah “proposisi imajinatif”, seperti OA ∧ OB → O(A ∧ B), bukan hanya gabungan dari dua agen imajinasi (OA dan OB), karena sebuah proposisi imajinasi mesti bisa membuka kemungkinan banyak “pembayangan” dalam konteks semantik. Jadi, mahluk mito-logi seperti “centaur” dalam mitologi Yunani, bukan hanya gabungan dari imajinasi tubuh kuda (OA) dan imajinasi tubuh manusia (OB) yang mengakibatkan gabungan tubuh kuda dan manusia atau O(A ∧ B) pada mahluk mitologis centaur, tetapi mesti lebih dari itu. Keter-batasan aksioma imajinasi dari Niiniluoto mengakibatkan aksioma itu tak bisa “menjelaskan” mahluk mitologi seperti naga di dalam kebudayaan Cina. Karena itulah, logika parakon-sistensi berusaha untuk menjelaskan perihal imajinasi dalam konteks yang lebih luas, tanpa terjebak pada error logika seperti yang telah dilakukan oleh Niiniluoto.

Sekarang saya akan mencoba melangkah lebih jauh lagi. Orang tak bisa mengima-jinasikan ruang-waktu empat dimensi yang diacukan oleh teori relativitas khusus dari Albert Einstein atau ruang-waktu 10 dimensi hasil gabungan dari teori relativitas umum dan mekanika kuantum yang dipopulerkan oleh Stephen Hawking. Namun, faktanya kedua teori itu telah bisa diverifikasi secara empiris dengan temuan soal reaktor nuklir dan black hole. Sains dan realitas yang diacu oleh sains itu melampaui imajinasi kita. Fakta yang ditunjuk oleh kedua teori sains itu bukanlah imajinasi seperti naga dalam kebudayaan Cina misalnya, tetapi anehnya dapat dipahami dengan konsep logis dari matematika dan dapat diverifikasi dalam realitas empiris atau pragmatis.

Bandarlampung, Oktober 2017

***

CATATAN:

1)Hal ini pasti menyangkut Tuhan, karena silsilah kejahatan juga merupakan teodisi. Muasal bencana masyarakat dan bahasa pada saat bersamaan memungkinkan aktualisasi kemampuan-kemampuan potensial yang tertidur di dalam diri manusia.

 2) Mempertimbangkan perihal efek, yang mungkin memiliki relasi praktis, kita pun membayangkan objek konsepsi kita sebagai hal untuk dimiliki. Kemudian, konsepsi kita tentang efek ini adalah keseluruhan konsep kita tentang objek.

3) Bahasa kiasan adalah satu penyimpangan perihal yang dikatakan oleh penutur bahasa sehari-hari, atau standard, atau urutan perkataan, untuk mencapai makna atau kesan khusus. (Abrams, M.H. 1981. A Glossary of Literary Terms. New York: Holt Rinehart and Winston).

***

Ahmad Yulden Erwin

Ahmad Yulden Erwin lahir di Tanjungkarang, pada 15 Juli 1972. Ia aktif menulis puisi dan prosa sastra sejak tahun 1987. Tahun 1997,ia menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Ekonomi Universitas Lampung.

Beberapa puisinya pernah diterbitkan di media massa lokal dan nasional, juga dalam beberapa antologi puisi bersama di antaranya: Memetik Puisi Dari Udara (1987), Jung (1994), Daun-Daun Jatuh Tunas-Tunas Tumbuh (1995), Festival Januari (1996), Refleksi Setengah Abad Indonesia (1995), Dari Huma Lada (1996), Mimbar Penyair Abad-21 (1997), Cetik (1999), dll. Setelah tahun 1999 praktis ia berhenti memublikasikan puisi-puisinya dan lebih banyak aktif di gerakan sosial antikorupsi . Pada tahun 1992, ia menjadi juara III dalam Lomba Cipta Puisi Islami “IQRA” tingkat nasional, dengan juri H.B. Jassin. Tahun 1995, ia menjadi juara I dalam Lomba Cipta Puisi pada Pekan Seni Mahasiswa Nasional ke-III di Jakarta. Selanjutnya, November 2006, puisinya yang berjudul ”Hikayat Fansuri” meraih penghargaan 15 besar dalam lomba cipta puisi tingkat nasional oleh Direktorat Kesenian. Tahun 1996 ia diundang Dewan Kesenian Jakarta untuk meng-ikuti “Mimbar Penyair Abad-21”. Dan tahun 1997 ia kembali diundang Dewan Kesenian Jakarta untuk mengikuti “Pertemuan Sastrawan Nusantara” di Kayu Tanam, Sumatera Barat.

Sejak tahun 2012, ia mulai aktif kembali menulis puisi. Pada tahun 2013 beberapa puisinya telah dipubli-kasikan di beberapa media massa seperti Lampung Post, Kompas Minggu, dan Koran Tempo.Terakhir, Oktober 2013, ia diundang membacakan puisi-puisinya dan menjadi narasumber diskusi tentang kritik sastra pada acara Binale Sastra Internasional di Salihara, Jakarta. Tahun 2014 kumpulan puisinya “Perawi Tanpa Rumah” mendapat rekomendasi sebagai buku puisi terbaik tahun 2013 oleh majalah Tempo. Pada tahun 2014 narasi puitiknya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, diterbitkan di Belanda, bersama dua puluh sastrawan dari berbagai negara di dalam buku “The Empty Place”. Saat ini ia sedang mempersiapkan penerbitan buku kumpulan puisi “Studi tentang Dua Buah Pir”, kumpulan 300 puisi terjemahan karya lima belas penyair modern dunia. Selain itu saat ini ia juga sedang mempersiapkan penerbitan lima kumpulan puisinya, satu novel, dan satu buku kumpulan kritik sastra terapan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *