Esai sastra

Membaca Buku Puisi REKAMAN TERAKHIR BECKETT (1)

Catatan Membaca Kumpulan Puisi “REKAMAN TERAKHIR BECKETT”
Karya Ari Pahala Hutabarat

Oleh Ahmad Yulden Erwin*

“It certainly concerns God, for the genealogy of evil is also a theodicy. The catastrophic origin of societies and languages at the same time permitted the actualization of the potential faculties that slept inside man.”1)

— Jaques Derrida, “Of Grammatology”, Translated by Gayatri Chakravorty Spivak, 1967

Bahasa tulis itu berbeda dari bahasa lisan dan keduanya memiliki peluang tingkat kesa-lahan yang sama besarnya. Hal itu ditegaskan oleh Jaques Derrida di dalam buku “Of Grammatology”, khususnya pada bagian ketika ia mendekonstruksi pemikiran Ferdinand de Saussure perihal fonosentrisme. Fonosentrisme, menurut Derrida, adalah paham pemikiran di dalam strukturalisme yang cenderung menomorduakan bahasa tulis karena mengutamakan bahasa lisan. Pengutamaan bahasa lisan itu bahkan oleh Derrida disebut menjadi akar dari lo-gosentrisme, akar dari kecenderungan manusia untuk mencari dan mengekspresikan hal yang dianggap trensenden, murni, pasti, dan tak perlu ditunda pemaknaanya. Singkatnya, sebuah absolutisme.

Menurut saya, kecenderungan para penulis sastra yang ingin tulisannya mudah dipa-hami oleh pembaca adalah kecenderungan fonosentrisme. Kecenderungan ini menciptakan semacam dugaan bahwa satu teks yang mudah dipahami atau “langsung” dipahami oleh pem-baca lebih tinggi derajat literasinya. Hal begitu tak lain satu kecenderungan absolutisasi ujaran dan menolak menunda pemaknaan di dalam satu tulisan, satu ketakutan akan peru-bahan, akan ketakpastian, dan cenderung menarik solusi ringkas (meski ilusif) bahwa kepas-tian pemaknaan itu hanya mungkin terjadi di dalam ujaran lisan. Seperti juga logosentrisme, fonosentrisme adalah satu kecenderungan dari moda berpikir modernisme, bukan postmo-dernisme, yang berakar sejak Plato—bahkan Permenides—dalam filsafat Yunani.

Fonosentrisme juga memiliki kecenderungan untuk menguasai pemikiran massa, ter-utama di dalam praksis politik. Para politisi, di dalam propaganda atau janji-janji kampanye-nya, dituntut menggunakan ekspresi bahasa yang mudah dipahami oleh massa, dan oleh se-bab itu kepastian pemaknaan menjadi latar pengujaran mereka agar mampu menghagemoni pikiran massa. Tidak peduli apakah isi ujaran lisan yang disampaikan itu benar atau salah, tetapi “khotbah” yang mudah dipahami—yang sesimpel mungkin—adalah tali tersembunyi untuk menyeret dukungan massa ke dalam afiliasi politik tertentu.

Saya pikir mungkin itulah sebabnya para politisi yang memiliki kemampuan orasi he-bat, seperti Adolf Hitler, cenderung mendapat “pemberhalaan” oleh massa. Hitler diberhala-kan oleh massa di Jerman pada perang dunia kedua, di negeri yang justru telah melahirkan para pemikir dunia dalam bidang logika, epistemologi, dan sains—yang pemikirannya terus berpengaruh hingga saat ini—seperti Immanuel Kant, Hegel, Karl Marx, Edmund Husserl, Albert Einstein, dll. Bisakah Anda melihat hal ini sebagai sebuah ironi yang pahit? Bisakah Anda melihat bagaimana fonosentrisme telah membuat logika menjadi semacam lelucon tertulis, semacam permainan yang dianggap merendahkan derajat suci kelisanan? Bisakah Anda melihat fakta bagaimana fonosentrisme di Jerman pada abad ke-20 kemudian bertrans-formasi secara metaforis menjadi monster pembantai paling mengerikan, yang telah me-mungkinkan kematian 62.000.000 orang lebih dalam perang dunia kedua? Bagaimana itu bisa terjadi?

Seorang orator yang terlatih mampu menghipnotis massa yang mendengar orasinya, mampu menciptakan ilusi kepastian (atau mudah dipahami massa) di tengah ketidakpastian perubahan. Ketika kau mampu menciptakan kerumunan, maka massa di dalam kerumunan itu secara psikologis akan menjadi “buta”: mereka tak memerlukan berpikir logis, mereka hanya menuntut hiburan tentang kepastian dari para orator yang dipujanya. Ketakpastian ditolak, karena ketakpastian adalah rasa sakit utama dalam pikiran massa, dalam bawah sadar kolek-tif, yang mesti disembuhkan oleh semacam “firman” dari para orator. Firman (termasuk “fir-man” dari para orator itu sendiri), dalam keyakinan naif para orator politik dan pemuja fanatiknya, cenderung tak menuntut pembuktian logis apa pun, tetapi harus diterima saja sebagai semacam kepastian rigorous, sebagai semacam asumsi yang turun langsung dari suara-lisan-kemurnian dan karenanya sungguh “tak sopan” dipertanyakan.

Mungkin, saya menduga, bagi kebanyakan para pemeluk teguh setiap pembuktian logis atau intuitif atas firman, atas narasi-narasi kanonik itu, adalah satu upaya “pemurtadan”, suatu upaya untuk melawan kepastian atau iman, sehingga wajib dihukum seberat-beratnya, bahkan dalam arti fisik. Di sisi lain, dengan sedikit parodis, terminologi pemurtadan sekarang justru bisa ditafsirkan sebagai sebuah konsep delogosentrisme atau dekonstruksi, ketimbang teologi. Benarkah begitu?

*

Dalam pembacaan saya, ditinjau dari aspek pendalaman tematik, puisi-puisi Ari Pahala Hutabarat dalam kumpulan ini berupaya keluar dari jerat narasi-narasi besar. Narasi-narasi besar itu dibentuk oleh semacam epistemologi (atau episteme) yang berusaha mengunci se-tiap kepastian di dalamnya. Semua ketakpastian harus keluar dari ruang epistemilogis. Na-mun, Ari justru melihat bahwa semua itu tidaklah pasti, ada semacam kegamangan yang samar-samar dalam narasi-narasi besar itu, yang terus mengikuti umpama bayang-bayang tubuh kita, semacam makna yang minta ditunda. Di dalam puisi berjudul “Epistemologi”,puisi pembuka kumpulan ini, Ari mencoba memainkan wacana perihal ketakpastian dalam cara berpikir manusia, begini ditulisnya dalam paragraf kedua puisi itu:

“di muka cermin ia berdiri. menatap tatapannya. tersenyum & yakin bahwa ia memang ada. kemudian ia melangkah, masuk ke cermin. kaki kanannya dahulu, dahinya dahulu. setelah itu sekujur tubuhnya. di dalam cermin, ia menatap sosok yang tadi menatapnya. “pada akhirnya, aku bisa bertanya, siapakah yang kufur, yang berdiri di luar cermin atau yang berdiri di dalam cermin,” ujarnya. sejak itu ia takzim pada segala sesuatu yang berwarna putih. lalu—

“Siapakah yang kufur?” Begitu sang narator (subjek lirik) di dalam puisi itu bertanya kepada dirinya sendiri. Ketika iamenatap tatapannya, sesungguhnya ia pun tengah menatap pikirannya sendiri, narasi-narasi besar dalam pikirannya itu, seperti ketika ia menatap ba-yangan sosoknya sendiri di cermin. Teknik ini, di dalam tradisi spirtualitas modern yang dikembangkan oleh Jidhu Krishnamurti (1895 – 1986) disebut “dua anak panah”. Pikiran yang biasa mengarahkan mata panahnya keluar pikiran, kini diarahkan kepada pikiran itu sendiri. Ini memungkin semacam “kekufuran” terhadap kepastian rigourus epistemologis. Pi-kiran yang melihat pikiran itu mulai menunda kepastian pemaknaan, semacam jeda, atas se-suatu yang kita kenal, yang kita ketahui atau kita anggap kita ketahui selama ini. Kita pun mulai memasuki dunia yang tak kita kenal, dunia yang selalu baru, yang terus-menerus memikat kita dalam ketakpastian pemaknaan. Begitulah, sang subjek di dalam puisi–puisi Ari memasuki dunia delogosentrisme, dunia yang tanpa pusat, yang memiliki pusatnya di mana-mana, sekaligus tak di mana-mana.

Namun, kenapa mesti ada delogosentrisme? Kenapa kita mesti memilih ketakpastian yang mungkin membuat kita sangat tidak nyaman itu, bila kita bisa memilih kepastian dalam epistemologi tertentu? Apa untungnya pilihan itu?

Ari mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dengan satu puisi yang jujur, semacam “pemurtadan” yang lain terhadap janji kepastian epistemologis, di dalam satu puisi pendeknya berikut ini:

Adam

aku cuma pesulap
yang tertipu oleh sulapanku sendiri

Adam di dalam puisi Ari di atas, bukan lagi sosok nabi atau manusia pertama dalam kitab suci, juga bukan sosok sedih yang terlempar dari surga pada puisi Sapardi Djoko Damono, tetapi satu sosok yang mengakui sulapan epistemologis di dalam pikirannya sendiri, satu tipuan yang menyamankan, satu “hoax” yang membuat kita merasa yakin, merasa beriman, meski sebenarnya itu cuma ilusi pikiran belaka. Adam telah kufur, telah murtad, dari ilusi kepastian dalam pikirannya sendiri. Lalu, apa untungnya kesadaran itu bagi Adam?

Perihal keuntungan atau kemanfaatan dalam epistemologi itu bukanlah sesuatu yang baru. Hal begitu telah menjadi dasar dari logika pragmatisme sejak abad ke-19. Prinsip kebenaran pragmatis pertama kali diperkenalkan ke publik oleh Charles Sanders Peirce lewat satu esainya yang berjudul “How to Make Our Ideas Clear”. Esai ini terbit pertama kali dalam majalah “Popular Science Monthly” pada tanggal 12 January 1878.Teori kebenaran pragmatis berpandangan bahwa arti dari ide dibatasi oleh referensi pada konsekuensi ilmiah, personal, atau sosial. Benar atau tidaknya suatu teori tergantung pada berfaedah atau tidaknya teori tersebut bagi kehidupan praktis manusia. Kebenaran suatu pernyataan harus bersifat fungsional dalam kehidupan sehari-hari, dengan kata lain, “suatu pernyataan adalah benar jika pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia”. Bagi mereka ukuran kebenaran adalah manfaat (utility), kemungkinan dikerjakan (workability) atau akibat yang memuaskan (effect). Sehingga dapatlah dikatakan pragmatisme tiada lain suatu aliran pemikiran yang mengajarkan bahwa yang benar ialah segala yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Artinya, semakin banyak orang yang menyatakan suatu ide itu berguna, maka ide akan semakin jelas, semakin bermakna, dan berarti benar. Untuk lebih jelas, baca kutipan dari esai “How to Make Our Ideas Clear” karya Charles S. Peirce berikut ini:

“Consider what effects, that might conceivably have practical bearings, we conceive the object of our conception to have. Then, our conception of these effects is the whole of our conception of the object.” 2)

Memadukan antara logika, matematika, dan topologi merupakan salah satu cara pem-buktikan Peirce dalam esai “How to Make Our Ideas Clear”. Teori kebenaran pragmatis dari Peirce juga berkonsekuensi terhadap pembelaan atas darwinisme epistemologis yang mene-rima pandangan bahwa sejarah ide adalah sejarah dari ide para pemenang (dalam jumlah para pendukungnya), sementara ide dari yang kalah langsung dianggap salah. Benarkah demikian?

Saya pernah membuktikan dalam salah satu esai saya yang lain bahwa argumen konse-kuensi pragmatis dari Charles Sanders Peirce belum tentu benar. Begini pembuktian saya itu:

Bagaimana Anda bisa membuktikan pernyataan deklaratif (proposisi) benar atau salah, bila subyeknya tidak diketahui atau tidak bisa diidentifikasi dengan jelas? Jawab: gunakan kalkulus predikat atau biasa dikenal juga sebagai logika predikat. Misalnya pada proposisi berikut ini:

“Ada seorang ibu bagi semua manusia di bumi.”

Bila menggunakan kalkulus predikat, proposisi di atas akan ditulis sebagai beri-kut:

Diketahui:
S = Semesta pembicaraan adalah semua manusia di bumi saat ini.
x = Ibu
y = Anak-anak dari x
z = Manusia di bumi
⇒ = Implikasi (maka)
∀= Kuantor universal (semua)
∃= Kuantor eksistensial (beberapa atau satu hal)

Proposisi:
M(x,y) = x melahirkan y
P(y,z) = y adalah z
T(x,z) = x melahirkan z

Maka, proposisi kalkalus predikatnya dapat ditulis begini:

(∃x) (∀y) (∀z) ((M(x, y) ⇒ P(y, z))

atau

(∃x) (∀z) T(x,z)

Pembuktian Proposisi:

  1. Proof (bukti) Menggunakan Kalkulus Predikat

Bila Anda hendak membuktikan proposisi di atas dengan menggunakan kalkulus predikat, maka Anda mesti mencari keberadaan “seorang ibu” (∃x) yang mela-hirkan semua anaknya (∀y) dan semua anaknya itu adalah “semua manusia di bumi” (∀z) pada saat ini (S). Dengan kata lain: “x adalah ibu dari semua manusia di bumi” atau bila hendak ditulis dalam proposisi kalkulus predikat akan menjadi (∃x) (∀z) T(x,z). Proposisi kalkulus predikat tersebut terbukti salah karena tak ada seorang pun ibu atau (∃x) yang akan menyebabkan fungsi T(x,z) benar pada semua z di dalam semesta pembicaraan (S).

  1. Proof (bukti) Menggunakan Logika Proposisional

Pada proposisi majemuk M(x, y) ⇒ Z(y, z), hipotesis Z selalu terbukti salah, karena tidak benar anak-anak dari x adalah semua manusia di bumi saat ini. Di dalam prinsip koherensi teoritik pada tabel kebenaran dari logika proposisional, sebuah proposisi majemuk yang menggunakan operator implikasi akan terbukti salah bila dan hanya bila konsekuennya (akibat atau efek) terbukti salah.

Begitulah saya membuktikan bahwa logika konsekuensi pragmatik dari Charles San-ders Peirce bisa keliru, bahwa “satu ide yang membawa akibat atau manfaat bagi orang ba-nyak, belum tentu benar.” Dengan kata lain, ide yang disepakati oleh mayoritas penerima manfaat, yang populer, belum tentu benar.

Problem sosial akan benar-benar menjadi absurd ketika sebuah patafora (yang berakar pada metafora, bukan realitas indrawi atau material), tiba-tiba bisa menyebabkan konflik dari masa ke masa—menyebabkan peperangan dan genosida. Ketika Charles Sanders Peirce, ter-masuk para pemikir aliran pragmatis sesudahnya, mencoba mencari landasan logis bagi ke-beradaan seluruh imajinasi (patafora) dari “sistem keyakinan” manusia tidak di dalam realita yang bisa diverifikasi (teori korespondensi) dan tidak juga di dalam teori koherensi, tetapi di dalam konsekuen dari satu implikasi logis, dari akibat yang berguna bagi banyak orang, maka yang terjadi kemudian adalah penyangkalan terhadap teori korespondensi dan koherensi. Saya pikir itu adalah satu kekonyolan yang mungkin tak diduga oleh Charles Sanders Peirce sebagai bapak filsafat pragmatisme sendiri. Misalnya, sebuah gagasan terkait kebijakan politik genosida atau proxy war di satu negara Asia Tenggara atau Afrika atau Timur Tengah bisa dibenarkan asalkan bisa memberi manfaat bagi mayoritas rakyat di Amerika Serikat.

Akibat (konsekuen) dari satu proposisi yang menggunakan operator implikasi lebih merupakan sebuah hipotesis yang mesti dibuktikan kebenarannya dengan uji prinsip-prinsip korespondensi. Jadi, menurut saya, agak aneh ketika Charles Sanders Peirce justru meng-gunakan “efek” dari satu ide sebagai landasan bagi kebenaran ide tersebut. Sebuah patafora, di dalam kriteria kebenaran pragmatis dapat menjadi kebenaran jika dan hanya jika memberi manfaat kepada banyak orang, tetapi ketika tak lagi memberikan manfaat, malah menjadi mudarat, maka kebenaran dari patafora itu pun berubah menjadi kesalahan. Kebenaran satu ide yang diukur dari kemanfaatan populisnya terkadang bisa menjadi satu gagasan konyol. Jika genosida adalah satu fakta peristiwa yang bisa diuji kebenarannya dalam konteks teori korespondensi, maka dalam konteks pragmatik ide genosida bisa diubah menjadi berkah dengan sebuah rekayasa anteseden (sebab), misalnya dengan menyebarkan isu bahwa kaum yang akan atau telah dibantai itu adalah kaum yang akan membantai kaum mayoritas sehingga kaum mayoritas yang tidak tahu fakta sebenarnya bisa menerima genosida tersebut sebagai tindakan atau gagasan logis, karena akibat (konsekuen) dari genosida tersebut akan menyelamatkan kehidupan kaum mayoritas.

Klaim kemanfaatan satu ide terhadap mayoritas dalam pragmatisme juga lebih meru-pakan sebuah patafora, ketimbang sebuah fakta atau kasus umum. Sebuah survey politik, misalnya, lebih merupakan sebuah landasan imajinatif bagi para politisi untuk melakukan tindakan politik, ketimbang sebuah pertimbangan teoritik atau faktawi yang bisa diuji secara logis.

Perihal yang hendak digugat oleh Ari di dalam kumpulan “Rekaman Terakhir Beckett” adalah soal “kepastian pemaknaan kebenaran”, yang kemudian bertransformasi menjadi logi-ka instrumental, menjadi sekadar kebergunaan, dan mengabaikan aspek kriteria kebenaran lainnya. Pemusatan itu, logosentrisme itu, yang berakar pada fonosentrisme, pada ilusi ke-murnian dalam ujaran lisan, telah menyeret epistemologi manusia kepada penyederhaan prag-matik: “Saya berguna, maka saya benar.”

Dengan licin Ari kemudian menggunakan penyederhanaan pragmatik itu menjadi semacam permainan bahasa di dalam puisi-puisinya. Tema-tema besar itu dijungkirbalikkan menjadi tema-tema kecil. Mitos-mitos agung dilucuti kepastian enigmatiknya, menjadi seka-dar peristiwa biasa, peristiwa sehari-hari, peristiwa di mana tetes air mata dan gelak tawa bisa hadir tanpa mesti menjadi semacam noda atas kesucian narasi. Batasan-batasantemporal dalam waktu juga bisa hadir saling memasuki: masa lalu tiba-tiba menyusup pada masa kini, masa kini berbiak dalam masa lalu, lalu masa depan pun bisa hadir dalam masa kini dan masa lalu. Dunia jungkir balik dari penanda dihadirkan oleh Ari untuk membuat kita menyadari bahwa semua itu hanya sulapan yang dibuat Adam, aspek manusiawi di dalam diri kita, demi membuat dirinya nyaman oleh ilusi kepastian. Ketika ilusi kepastian itu disaksikan sendiri oleh Adam di dalam pikirannya, maka penudaan pemaknaan pun hadir. Penundaan itu me-mungkinkan kita untuk benar-benar melihat realitas yang dibangun oleh instrumen epsitemo-logis: kepastian yang goyah, yang mungkin juga telah lama runtuh, tetapi terus kita perta-hankan dalam ilusi kekukuhan yang stabil. Dengan indah sekali Ari mendiskripsikan perihal di atas ke dalam paragraf pertama puisinya yang berjudul “Buku Tuan Borges”:

aku mencari sebuah muasal huruf yang mungkin bersembunyi di antara derau kata, frase, & klausa. aku mencari sebuah nama yang dulu mungkin sekali pernah kudengar di antara banyak nama yang akhir-akhir ini sering kaucerca. aku men-cari sebongkah dingin di jantung bara api. aku mencari suara riang di sela-sela deru tank & dentuman meriam. mungkin saja, apa yang kucari itu pernah pula kau menerkanya.

Bila hendak diringkas sari dari epistemologi modern itu, maka akan berbentuk per-nyataan berikut ini:“p ∧ – p adalah sebuah bentuk kontradiksi, tetapi p ∨ – p adalah sebuah tautologi.”Kontradiksi berartiargumen atau proposisi adalah salah, sedangkan tautologi berarti argumen proposisi adalah benar. Epistemologi saat ini tidak bisa menerima kontra-diksi sebagai sebuah argumen ataun proposisi yang valid. Namun, seni—khususnya seni mo-dern atau kontemporer—sejak awal abad ke-20 sudah dapat menerima kontradiksi sebagai sebuah prinsip seni yang valid dengan munculnya konsep jukstaposisi (menyejajarkan dua hal yang bertentangan dalam ruang-waktu yang sama). Apakah proposisi yang bersandarkan pada properti kebenaran seperti prinsip korespondensi, koherensi, dan atau pragmatisme itu selalu lebih benar daripada jukstaposisi?

Seluruh basis dari epistemologi modern dibangun oleh tautologi-biner: benar atau salah, tak ada jalan tengah. Ini jelas sebuah sistem yang tertutup, sebuah sistem apriori yang meno-lak relasi dengan sistem lainnya. Karena itulah epistemologi modern tak bisa melogikakan sebuah sistem terbuka atau sistem khaotik yang unsur-unsur dan relasi di dalam sistem itu lebih dari dua variabel. Epistemologi modern adalah sebuah model yang jauh dari fakta dan atau pengalaman manusia—sebuah model epistemologi yang justru melanggar prinsip funda-mental dari epistemologi modern itu sendiri, yaitu: prinsip korespondensi. Bayangkan, jika dunia ini semata-mata diisi oleh Anda dan saya. Tak ada apa pun kecuali Anda dan saya. Jika Anda ada, maka saya harus tiada—begitu sebaliknya. Dan kebermaknaan dari tautologi-biner itu selalu monistik: Anda dan saya tidak bisa keduanya benar, hanya ada satu kebenaran yang benar, jika saya benar maka Anda harus tidak benar. Hanya ada Anda dan saya—dia, orang ketiga itu, dianggap tak pernah ada. Tak pernah ada relasi untuk tiga hal, dan karenanya tak ada kebenaran kedua atau ketiga dan seterusnya, hanya ada satu kebenaran. Model tautologi-biner dari epistemologi modern, jika ditinjau dalam konteks pengalaman dan fakta sehari-hari, justru adalah “argumentum ad absurdum” itu sendiri.

***

(bersambung …. )

*Ahmad Yulden Erwin

Ahmad Yulden Erwin lahir di Tanjungkarang, pada 15 Juli 1972. Ia aktif menulis puisi dan prosa sastra sejak tahun 1987. Tahun 1997,ia menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Ekonomi Universitas Lampung.

Beberapa puisinya pernah diterbitkan di media massa lokal dan nasional, juga dalam beberapa antologi puisi bersama di antaranya: Memetik Puisi Dari Udara (1987), Jung (1994), Daun-Daun Jatuh Tunas-Tunas Tumbuh (1995), Festival Januari (1996), Refleksi Setengah Abad Indonesia (1995), Dari Huma Lada (1996), Mimbar Penyair Abad-21 (1997), Cetik (1999), dll. Setelah tahun 1999 praktis ia berhenti memublikasikan puisi-puisinya dan lebih banyak aktif di gerakan sosial antikorupsi . Pada tahun 1992, ia menjadi juara III dalam Lomba Cipta Puisi Islami “IQRA” tingkat nasional, dengan juri H.B. Jassin. Tahun 1995, ia menjadi juara I dalam Lomba Cipta Puisi pada Pekan Seni Mahasiswa Nasional ke-III di Jakarta. Selanjutnya, November 2006, puisinya yang berjudul ”Hikayat Fansuri” meraih penghargaan 15 besar dalam lomba cipta puisi tingkat nasional oleh Direktorat Kesenian. Tahun 1996 ia diundang Dewan Kesenian Jakarta untuk meng-ikuti “Mimbar Penyair Abad-21”. Dan tahun 1997 ia kembali diundang Dewan Kesenian Jakarta untuk mengikuti “Pertemuan Sastrawan Nusantara” di Kayu Tanam, Sumatera Barat.

Sejak tahun 2012, ia mulai aktif kembali menulis puisi. Pada tahun 2013 beberapa puisinya telah dipubli-kasikan di beberapa media massa seperti Lampung Post, Kompas Minggu, dan Koran Tempo.Terakhir, Oktober 2013, ia diundang membacakan puisi-puisinya dan menjadi narasumber diskusi tentang kritik sastra pada acara Binale Sastra Internasional di Salihara, Jakarta. Tahun 2014 kumpulan puisinya “Perawi Tanpa Rumah” mendapat rekomendasi sebagai buku puisi terbaik tahun 2013 oleh majalah Tempo. Pada tahun 2014 narasi puitiknya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, diterbitkan di Belanda, bersama dua puluh sastrawan dari berbagai negara di dalam buku “The Empty Place”. Saat ini ia sedang mempersiapkan penerbitan buku kumpulan puisi “Studi tentang Dua Buah Pir”, kumpulan 300 puisi terjemahan karya lima belas penyair modern dunia. Selain itu saat ini ia juga sedang mempersiapkan penerbitan lima kumpulan puisinya, satu novel, dan satu buku kumpulan kritik sastra terapan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *