Purnama Tugu Rato Ikon Wisata Budaya Di Tubaba

Tulang Bawang Barat sedang bermetamorfosa menuju kabupaten paling berbudaya di Provinsi Lampung. Setidaknya itulah kesan yang tertangkap dalam benak saya ketika mengikuti perkembangan Tubaba beberapa tahun terakhir ini.

Selasa malam (8/8) saya berkesempatan menyaksikan “Purnama Tugu Rato” satu ajang pertemuan dan kebersamaan menuju satu Tubaba. Pada Edisi Perdana, dipilihlah Layar tancap atau film screening sebagai program bulanan kali ini. Ada delapan film dokumenter diputar sejak pukul 20.00 sampai 24.00 WIB di Tugu Rato.

20663792_1836075566708197_8942620562460702116_n
Masyarakat berbagai usia (tua, muda, anak-anak) berkumpul. Mereka tampak antusias dan ingin tahu film-film yang akan diputar. Selepas isya berduyun-duyun mereka datang ke lokasi. sembari Menyaksikan pemutaran Layar tancap di Tugu Rato mereka bercengkrama dengan teman, tetangga, kerabat lainnya. Puluhan orang duduk di jok motor, sebagian memilih tetap berdiri, ada yang duduk di sekitar tugu, sebagian lagi memilih duduk di kursi yang telah disediakan oleh panitia.

Wakil Bupati Tubaba, Fauzi Hasan SE.,MM hadir pada kesempatan ini, di didampingi sejumlah pejabat lainnya. Ia sangat mengapresiasi Purnama Tugu Rato dan berharap selain menjadi salah satu ikon Tubaba, kegiatan ini bisa menjadi ruang bagi bermacam-macam ekspresi seni yang ada di Tubaba, menjadi ajang silaturahmi, sekaligus destinasi wisata yang menarik bagi masyarakat Tubaba dan sekitarnya.

Di bawah terang bulan, masyarakat Tubaba berkumpul di sekitar Monumen Tugo Rato, tugu yang melambangkan kejayaan raja dan ratu di Kerajaan Tulang Bawang. Raja dan Ratu mengendarai kereta kencana ditarik dua ekor naga. Tugu ini dibangun Pemkab Tubaba tahun 2015, karya pematung Bali Iwayan Winten.

20729342_1836840316631722_8379992299559496738_n

Semi Ikra Negara yang didapuk sebagai perwakilan panitia memaparkan tentang pentingnya program Purnama Tugu Rato ini. Selain pemutaran film, ia menjelaskan banyak event lain yang sudah disiapkan dalam rangka menghidupkan geliat budaya di Tubaba, khususnya di Tugu Rato. Pada kesempatan selanjutnya akan ada pagelaran musik, berbagai ekspresi seni tradisi, dan lain sebagainya. Tugu Rato diharapkan bisa menjadi pusat perkembangan seni dan budaya di Tubaba nantinya.

Sutradara film Dokumenter “Anak-anak Koin” Chrisilia Wentiasri,yang turut hadir memaparkan pengalamannya membuat film, dan mengisahkan mengapa ia tertarik untuk menjadikan anak-anak koin sebagai materi filmnya. Dara asal Bandar Lampung, alumnus ISI Jogjakarta ini dengan lincah dan lugas bercerita tentang produksi film Anak Koin,
satu film dokumenter berdurasi 33 min, diproduksi tahun 2016. Film ini mengambil tempat di Pelabuhan Bakauheni sebagai pelabuhan yang termasuk sibuk dalam menjalankan aktivitas jasa penyeberangan memunculkan banyak profesi baru yang tidak diakui legalitasnya. Anak Koin contohnya. Tak sedikit anak di lingkungan pelabuhan yang menggantungkan hidup mereka pada profesi penuh atraksi berbahaya dan terlarang ini. Agus akan membawa kita mengetahui bagaimana kehidupan anak koin sebenarnya. Secara singkat, Wenti juga berkisah film-film yang telah ia produksi sebelumnya.

20229413_10159051351650472_5496892730015649711_n

Chrisila menuturkan, dia menekuni film, berawal dari hobi nonton film, dan penasaran bagaimana bisa membuat karya audio visual ini. Ia berharap kegiatan ini bisa mendorong munculnya sineas-sineas asal Tubaba nantinya.  Selain Anak Koin ada beberapa film lagi yang diputar pada Purnama Tugu Rato I;  Seko (Gilang ramandika), Ali-ali Setan (Putri Purnama Sari), Anganku Tinggi ke Bawah (Charles Edward), Halaman Belakang (Yusuf Radjamuda), Mengejar Dangdut (Gisela Levi), Cermin (Sarah adillah), dan Tendangan Dari Langit (Hanung Bramantyo)

Purnama Tugu  Rato adalah salah satu event yang digagas Studio Hanafi dan didukung sepenuhnya oleh Pemda Tubaba dan Dewan Kesenian Tubaba.  Sebelumnya sudah banyak event atau kegiatan yang dihelat mereka. Seniman lokal dan Nasional pun dilibatkan.   Ini adalah salah satu kegiatan Budaya di Tubaba, sebagai bagian dari upaya mengenalkan Tubaba ke publik yang lebih luas. Bupati Tubaba Umar Ahmad mengatakan Tubaba tidak memiliki obyek wisata alam, seperti gunung dan pantai. Tempatnya juga masih terpencil. Karena itu, ia mendorong pengembangan seni budaya agar orang tertarik berkunjung ke sana. “Kita perlu melestarikan adat dan budaya Lampung sebagai bentuk pelestarian sejarah masyarakat Lampung,” ujarnya.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*