PERANAN MASTERA DALAM PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN SASTRA DI ASIA TENGGARA

Ganjar Hwia, Sekretaris Mastera-Indonesia. Foto Dok Badan Bahasa

PERANAN MASTERA
DALAM PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN SASTRA
DI ASIA TENGGARA
oleh: Ganjar Hwia
(Sekretaris Mastera-Indonesia)

Alu-Aluan

Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) merupakan forum kerja sama kesastraan antara negara Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Mastera berdiri sejak 25 Agustus 1995 yang ditandai dengan penandatangan Deklarasi Mastera di Kuala Lumpur yang selanjutnya dikukuhkan dengan penandatangan Piagam Mastera pada tahun 1996. Sejak dideklarasikan di Bukittinggi dan penandatanganan piagam kerja sama, Mastera telah melakukan kegiatan pembinaan dan pengembangan sastra di masing-masing negara anggota.

Sejak berdiri hingga saat ini (2017), berbagai kegiatan telah dilakukan. Berdasarkan piagam ada pembagian kerja yang tegas antara tiga negara pendiri (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia), bidang penelitian dan program penulisan menjadi tugas dan tanggung jawab Mastera Indonesia.  Penyusunan dan pembinaan diserahkan kepada Mastera Brunei Darussalam. Namun, pada perkembangan lebih tegas sejak tahun 2005 pembagian tugas itu tidak terlalu baku dalam penerapan. Oleh karena itu, Indonesia juga mulai mengerjakan penyusunan untuk keperluan penerbitan. Malaysia juga mengambil peran penelitian sastra bandingan dan Brunei juga melakukan hal yang sama.

Dalam perjalanan 22 tahun sejarah kerja sama antarnegara tentulah banyak program yang telah dilakukan, tetapi tentu masih sedikit jika dibandingkan dengan forum kerja sama politik antarnegara di Asia Tenggara, yakni ASEAN. Dapat dikatakan bahwa kerja sama kesastraan merupakan salah satu wujud kerja sama kebudayaan dan itu amat penting guna menunjang kerja sama politik. Perlu kiranya disebutkan badan pemerintahan pengelola kerja sama kesastraan dari tiga negara, yakni Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dari Indonesia serta Dewan Bahasa dan Pustaka dari Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Menyerlah Sastra yang Bermartabat

Karya sastra dari negara-negara di Asia Tenggara setelah kemerdekaan berkembang secara sendiri-sendiri. Ikatan yang ada di antara mereka hanyalah media pengucapannya, yaitu bahasa Indonesia/Melayu. Atas kesadaran sebagai bangsa serumpun yang mendiami wilayah Asia Tenggara, sebenarnya telah ada usaha dari para sastrawan sejak tahun 1973.  Misalnya, Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia (DBP) bersama-sama Gabungan Persatuan Penulis Nasional Malaysia (GAPENA) telah melaksanakan Seminar Kesusastraan Nusantara pada tahun 1973. Acara tersebut kemudian diikuti dengan Siri Pertemuan Sastrawan Nusantara sejak tahun 1977 yang diadakan secara bergiliran di Singapura, Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Pertemuan tersebut dihadiri oleh penulis-penulis dari Thailand dan Filipina. Hasil kegiatan tersebut melalui GAPENA telah didirikan Majlis Sastrawan Nusantara pada tahun 1994 yang dianggotai oleh badan-badan bahasa dan sastera bukan kerajaan atau pemerintah. Badan ini merupakan penggerak kesusastraan tidak resmi bagi negara masing-masing. Oleh sebab itu, dari pihak pemerintah atau kerajaan membentuk badan resmi guna mengarahkan segala kegiatan pemasyarakatan, apresiasi, penelitian dan penerbitan hasil sastra berbahasa Indonesia/Melayu dalam wadah Mastera atau Majelis Sastra Asia Tenggara  yang disetujui asasnya oleh tiga negara pendiri (Brunei Darussalam, Indonesia, dan Malaysia) dalam Kongres Bahasa Melayu Sedunia pada 25 Agustus 1995.

Sidang ke-1 Mastera dilaksanakan di Balai Tun Syed Nasir, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur pada 12 Agustus 1996. Sidang ke-2 Mastera diadakan di Hotel Pemandangan Sungai, Gadong, Brunei Darussalam pada 5—7 Mei 1997, dan Sidang ke-3 berlangsung di hotel Primula, Parkroyal, Kuala Trengganu, Terengganu Darul Iman pada 4–6 Mei 1998.  Pendiri Mastera antara lain Tn. Haji Alidin Haji Othman (Brunei Darussalam), Dr. Hasan Alwi (Indonesia), dan Tn. Haji A. Aziz Deraman (Malaysia).

Kiprah Mastera selama 21 tahun ini sudah meninggalkan jejak yang bermakna. Banyak sastrawan yang sudah merasakan kemanfaatan dan kebergunaan Mastera sebagai sebuah organisasi kerja sama di lima negara anggotanya. Sastrawan muda di Brunei Darussalam dan Malaysia, misalnya, sangat berterima kasih dengan pengikutsertaan mereka dalam salah satu kegiatan Mastera, yakni program penulisan Mastera. Keikutsertaan mereka di dalam kegiatan ini telah menjadikan mereka semakin mapan dalam dunia sastra.

Kemanfaatan dan kebergunaan Mastera di tiap negara anggota memang mungkin masih belum dapat dinikmati oleh masyarakat secara luas, tetapi apa yang sudah diusahakan merupakan sudah merupakan langkah kecil yang harus selalu dikembangkan dan harus terus dilakukan.

Semangat untuk terus melakukan dan menggerakkan pengelola Mastera dalam hal ini lembaga dan pakar-pakar yang telah dengan susah payah menghidupinya memang masih harus terus ditempa. Sebagai sebuah forum kerja sama antarnegara Mastera sangat tergantung pada kebijakan di lingkungan lembaga pemerintah yang mengelolanya dan secara otomatis kepada negara atau kerajaannya. Meskipun demikian, tujuan Mastera tetap dipertahankan pada khitahnya, yaitu sebagai berikut.

  1. Merapatkan hubungan, pengertian dan kerjasama kesusastraan bagi memajukan dan mengembangkan kesusastraan Indonesia/Melayu di arah menjadi warga sastera dunia yang berwibawa;
  2. Menyelaraskan kegiatan dan penelitian kesusastraan Indonesia/Melayu secara terpadu;
  3. Mengusahakan peluang-peluang bersama untuk para sastrawan memajukan bakat, penterjemahan, penerbitan, dan pengiktirafan terhadap pencapaian mutu ciptaan sastra;
  4. Memantapkan penyebaran dan penggunaan bahasa Indonesia/Melayu sebagai wahana komunikasi, media ilmu pengetahuan dan media pengucapan seni ke peringkat rantau dan antarbangsa; dan
  5. Melaksanakan segala butiran yang terkandung dalam piagam majelis.

Mastera Menjadi Penaja Kreativitas

IMG-20170806-WA0001

Kegiatan Mastera terdiri atas beberapa kegiatan, yakni persidangan/semi­nar/kuliah, program penulisan, penerbitan, penyusunan, penelitian, penerjemahan, anugerah/hadiah/penghargaan.

Semula Sidang Mastera diselenggarakan bersamaan dengan Sidang Eksekutif Mabbim (Majelis bahasa Brunei-Indonesia-Malaysia) dan dilaksanakan di sekitar bulan Maret. Namun, sejak tahun 2008 pelaksanaan Sidang Mastera terpisah dengan Sidang Eksekutif Mabbim. Oleh sebab itu, pada tahun itu Sidang Mastera diselenggarakan dua kali, yakni pada bulan Maret 2008 di Jakarta dan pada bulan September 2008 di Brunei Darussalam.  Pada tahun 2017 ini Sidang Mastera sudah dilaksanakan dalam hitungan yang ke-23. Sidang Mastera dilaksanakan secara bergilir dengan urutan negara penyelenggara Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Musyawarah Sekretariat Mastera pun dilaksanakan secara bergilir. Kegiatan ini diselenggarakan antara bulan Juni atau Juli. Fungsi Musyawarah Sekretariat adalah untuk mengevaluasi kegiatan Mastera yang sedang berjalan serta merencanakan kegiatan-kegiatan yang akan datang. Pada tahun 2008 ada keinginan untuk menggilir penyelenggaraan Musyawarah.

Setiap kali sebelum Sidang Mastera diselenggarakan selalu diadakan Seminar Antarabangsa Kesusastraan Asia Tenggara (SAKAT) dan diselenggarakan oleh tuan rumah penyelenggara Sidang Mastera. Pada tahun 2017 Mastera Indonesia akan menjadi tuan rumah untuk Sidang Ke-23 dan Seminar Antarbangsa Kesusastraan Asia Tenggara yang akan dilaksanakan pada September 2017 di Jakarta.

Selain acara sidang, musyawarah, dan seminar, Mastera-Indonesia pun menyelenggarakan Program Penulisan Mastera.  Program ini merupakan kegiatan berbentuk pelatihan yang ditujukan bagi sastrawan muda dari lima negara, Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Negara penyelenggara kegiatan ini adalah Indonesia. Ada lima genre karya yang dilatihkan, yaitu genre puisi, cerpen, novel, drama, dan kritik/esai. Kelima genre ini dilatihkan secara bergilir setiap tahunnya. Perguliran genre dimulai dari puisi, cerpen, esai, drama, novel. Awalnya nama kegiatan ini adalah Bengkel Penulisan Mastera, kemudian diubah namanya menjadi Program Penulisan Mastera.

Pada setiap kali penyelenggaraan akan berkumpul sastrawan muda dan sastrawan senior untuk saling berbagai pengalaman melalui diskusi-diskusi yang dilaksanakan secara aktif. Hasil pelatihan ini sudah diterbitkan dalam bentuk antologi dan diterbitkan oleh Mastera Indonesia, seperti pada tahun 2005 dengan judul Dari Amerika ke Catatan Langit (kumpulan puisi), Dari Pemburu ke Terapeutik (kumpulan cerpen), Jendela Terbuka (kumpulan esai), dan Menjenguk Dunia Batin: Cerpen Serumpun (kumpulan cerpen).

Kegiatan penerbitan di dalam Mastera terdiri atas dua jenis, yakni penerbitan berkala dan penerbitan insendentil. Penerbitan berkala yang ada dalam kegiatan Mastera ada dua, yaitu penerbitan sisipan Lembaran Mastera dan jurnal Pangsura. Sisipan Lembaran Mastera baru dilaksanakan di tiga negara dengan bahan yang dikumpulkan secara bersama oleh tiga negara. Lembaran Mastera terbit tiga kali setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember. Lembaran ini disisipkan di dalam majalah sastra yang dimiliki oleh negara masing-masing. Di negara Brunei Darussalam Lembaran Mastera disisipkan di majalah Bahana. Di negara Malaysia Lembaran Mastera disisipkan di majalah Dewan Sastra. Di Indonesia Lembaran Mastera disisipkan di majalah Pusat (semula di majalah Horison).  Pada lembaran tersebut dimuat berbagai karya puisi, cerpen, drama, dan esai. Tukar menukar karya yang termaktub dalam sisipan ini pun telah membuka wawasan masyarakat di lima negara tentang karya sastra di negara tetangganya. Lembar Sisipan yang diterbitkan secara rutin di bulan April, Agustus, dan Desember menjadikan Mastera sebagai corong komunikasi kesastraan antarnegara.

feslog - Copy

Pada tahun 2008 Mastera Indonesia telah menerbitkan antologi cerpen yang berasal dari Lembaran Mastera dengan judul Menjenguk Dunia Batin Cerpen Serumpun. Ini merupakan penerbitan khas. Penerbitan khas juga dilaksanakan di Brunei Darussalam dan Malaysia. Mastera Malaysia sudah menerbitkan Intisari Karya Sastra Klassik.

Kegiatan penelitian merupakan jantung kegiatan Mastera. Melalui penelitian yang dilakukan diharapkan diperoleh kesefahaman mengenai kondisi kesastraan di tiap negara anggota. Penelitian dan penyusunan di dalam kerangka kerja Mastera merupakan kegiatan yang berkelanjutan. Pertama-tama setiap negara menginventaris dan mengumpulkan karya serta menyusunnya dalam bentuk antologi. Berikutnya setelah terbentuk antologi akan diserahkan kepada negara Mastera yang ditunjuk dalam Sidang untuk dikaji dengan dasar teori sastra bandingan.

Mastera juga mengadakan kegiatan penerjemahan karya sastra (ke dalam bahasa Inggris).  Kegiatan ini merupakan salah satu upaya yang dilaksanakan Mastera untuk menjadikan karya sastra yang ditulis oleh pengarang-pengarang di kawasan Asia Tenggara dikenal di dunia internasional. Kegiatan ini baru mulai dilaksanakan pada tahun 2009. Untuk pertama kali, karya yang diterjemahkan berupa cerpen, cerpen-cerpen yang ada di dalam Edisi Khas Lembaran Mastera Menjenguk Dunia Batin Cerpen Serumpun. Ada 15 cerpen yang diterjemahkan. Setiap negara menerjemahkan 5 cerpen dari negara masing-masing.

Mastera memberikan tiga jenis penghargaan terhadap karya sastra dan sastrawannya. Mastera Brunei Darussalam memberikan Anugerah Sastra Mastera. Anugerah ini diberikan kepada sastrawan yang dinilai telah mapan atas dedikasi yang tinggi terhadap dunia kesusastraan. Mastera Indonesia memberikan Penghargaan Sastrawan Muda yang diberikan kepada sastrawan muda yang memperlihatkan perkembangan kreativitas yang terus meningkat dan bermutu. Mastera Malaysia memberikan Hadiah Sastra Mastera kepada karya sastra dan karya kritik.

Epilog

IMG-20170806-WA0002
Sungguh suatu anugerah yang indah bahwa Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan Thailand memiliki banyak kesamaan dalam hal bahasa dan sastra. Namun, karena setiap negara mengalami sejarah yang berbeda, setiap negara juga memiliki keragaman antara bangsa serantau itu. Salah satu cara yang dilakukan untuk untuk saling memahami antardunia batin suatu bangsa adalah dengan membaca karya-karya sastra yang dihasilkan oleh negara bersangkutan dan secara bersama-sama mengadakan kegiatan kreatif, seperti kegiatan yang telah dirancangkan oleh Mastera.

Seperti dalam Program Penulisan Mastera, baik untuk puisi, drama, novel, cerpen, maupun esai, program ini sangat diharapkan dapat menyemai para penulis berkualitas dari kalangan generasi muda di negara serantau yang dapat memunculkan kejatidirian sastra kita.  Yang pada akhirnya nanti diharapkan dapat memberikan sumbangsih yang berarti bagi kemajuan sastra di setiap negara anggota Mastera.

Dalam konteks pemartabatan kesusastraan Indonesia/Melayu yang kuat sekaligus perwujudan keharmonian di antara bangsa serumpun, kehadiran Mastera ini mempunyai arti yang sangat penting. Indonesia, Brunei Darussalam, dan Malaysia serta Thailand dan Singapura sudah bekerja sama dalam mengembangkan kesusastraan di negeri serumpun dan kerja sama tersebut telah menumbuhkan pemahaman yang sama terhadap perkembangan dan pertumbuhan kesusastraan di negera masing-masing.  Dengan demikian, pemahaman antarbudaya yang terjadi pun akan semakin kuat sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu upaya dalam mewujudkan keharmonisan di antara bangsa serumpun,  khususnya bangsa-bangsa yang berada di kawasan Asia Tenggara.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*