Mementaskan Monolog Tanpa Sutradara

Oleh Alexander GB

Pada satu kesempatan, Grotowski pernah menyatakan bahwa semua elemen teater boleh tidak ada, set-dekor, naskah, musik, make-up, dan bahkan sutradara, asal ada aktor dan penonton, maka peristiwa teater tetap bisa dilangsungkan. Ini bukan berarti aktor (pelaku teater) tidak membutuhkan semua itu, namun pada situasi khusus, aktor dituntut kemandiriannya, demikian juga yang dipesankan Ari Pahala saat kami memulai project mikro teater, atau teater berdurasi pendek, yang pertunjukannya kemudian pentas keliling di ruang-ruang kelas yang tersebar di berbagai kabupaten/kota di provinsi Lampung. Satu strategi untuk mengatasi berbagai keterbatasan yang melingkupi kehidupan teater terkait dengan fasilitas (gedung), kelompok, naskah, dan lain sebagainya.

Maka pada kesempatan ini saya mencoba berbagi pengalaman dan semoga bermanfaat. Kebetulan bertepatan dengan persiapan Festival Monoton (Monolog Sing Ditonton) yang diinisiasi oleh Dewan Kesenian Lampung, dan akan diselenggarakan pada tanggal 7-10 September 2017.

Berikut adalah langkah-langkah yang mesti ditempuh, Pertama-tama, setelah menentukan naskah yang akan dipentaskan, aktor harus mendayagunakan otak atau intelektualnya untuk membedah naskah, atau dalam istilah Stanivlaski menyebutnya round the table analysis. Aktor menyiapkan kertas kerja, berupa catatan mengenai segala sesuatu informasi yang dapat di peroleh dari naskah. Langkah selanjutnya adalah menemukan super objectif-pesan utama dari teks/lakon . Misalnya lakon Merdeka karya Putu Wijaya, pesan Utama dari keseluruhan lakon itu apa?bisa ditulis dalam satu atau dua kalimat.

Setelah mendapatkan super-objektif, kita bisa bergerak ke hal yang lebih khusus, mengidentifikasi paragraf dan dialog yang memiliki maksud-mood yang sama, lantas dikelompokkan dan ditandai dengan angka atau abjad. naskah itu terdiri dari berapa paragraf (paragraf bisa berbentuk narasi atau dialog)? Lalu temukan kalimat utama dan maksud dari setiap paragraf, jenis emosi yang dominan. Semuanya hasil yang ditemukan harap ditulis-dicatat, karena itu akan menjadi rambu-rambu proses kita selanjutnya.

Ketiga adalah identifikasi peran atau watak dan karakter tokoh yang kita mainkan, umur, memahami situasi-situasi terberi, lokus-tempatnya dimana, waktunya (pagi, siang, malam), cuaca, situasi yang dialami tokoh seperti apa (eksternal), dan lain sebagainya.  kesan yang muncul setelah membaca naskah, mengenai tokoh utama dan tokoh-tokoh lain yang ada di dalam teks.

Tahap ke Empat adalah mengidentifikasi tempat berlangsungnya peristiwa, benda-benda, bangunan, properti-properti dan semua informasi yang berkaitan dengan naskah dan rencana pemanggungan. Melakukan riset dan observasi agar data yang kita miliki semakin lengkap dan akurat berkaitan dengan lakon. semakin banyak informasi yang kita peroleh akan mempermudah proses kita selanjutnya.

Tahap ke Lima adalah eksplorasi, aktor membebaskan diri untuk menemukan bentuk (laku) baik yang fisikal maupun yang bathin dari teks. Aktor mencoba memasuki teks tanpa teknik, mencoba menemukan emosi dasar dari tokoh, menemukan dorongan dari dalam “impuls” yang otentik dari dalam diri aktor. Semua proses ini sebaiknya juga tercatat atau terdokumentasikan.

Langkah selanjutnya adalah kodifikasi gerak hasil eksplorasi, jika tidak ada pengamat atau sutradara, bisa berdasarkan rekaman video. Kodifikasi gerak adalah memilih dan melatih bentuk-bentuk tertentu hasil eksplorasi untuk tujuan pementasan; warna vokal, cara melontarkan kalimat, postur-portur tubuh tertentu, urutan gerak, perpindahan posisi (blocking), jenis suara atau musik tertentu, dan lain sebagainya.

Membuat rencana pementasan, menentukan setting, properti yang dibawa untuk permainan, blocking, dll. Menentukan teknik muncul, on-stage atau tidak, memilih timing-volume musik. Menyusun runutan gerak-rangkaian aktivitas (fisical score) atau istilah lainnya line of action (garis laku) berdasar paragraf atau adegan-adegan yang sudah dibuat. Membuat Storyboard akan lebih membantu. Storyboard adalah sketsa gambar yang disusun berurutan sesuai dengan naskah. Storyboard dapat menyampaikan ide pertunjukan kepada orang lain dengan lebih mudah.

contoh gambar setting sederhana sebuah panggung.
contoh gambar setting sederhana sebuah panggung.

Berdasar gambar di atas kita akan lebih mudah membuat rencana pementasan. Misalnya pada adegan awal, kita bisa menentukan darimana masuknya, lantas bergerak ke mana saja,  menentukan tempo-irama gerak, jenis emosi (sedih, marah, gembira), termasuk menentukan musik dan titik lampu dan lain sebagainya. Rangkaian gerak dalam proses ini, bisa disebut sebagai physical score.

Physical score adalah istilah yang dipopulerkan oleh Stanislavski, lalu kemudian dipopulerkan dan dikembangkan lebih jauh oleh Grotowski–yang merujuk pada konsistensi (fisikal) yang organis. Score berarti serangkaian laku atau aksi yang presisif, buah dari desain (rencana), yang dapat diulang-ulang–yang dihubungkan bersama untuk mencapai tugas pemeranan. Namun sebuah score  tidak hanya mengekpresikan perilaku eksternal, tetapi dilambari atau sekaligus buah (wujud) dari dorongan internal (bathin).  Score diperoleh dari buah trial and error aktor selama proses latihan.  Score di sini memiliki kedekatan dengan istilah notasi dalam musik.

Runutan gerak dari awal sampai akhir merupakan wujud dari teks, atau naskah lakon. Jadi rujukan tepat tidak tepatnya gerak, berdasar teks atau adegan atau rencana pementasan.  Maka kuncinya adalah aktor harus jeli, membaca dan memahami maksud dari kalimat, baik secara eksplisit maupun yang implisit, memahami motif dan sasaran setiap kalimat atau paragraf dari lakon yang hendak dipanggungkan.

Ketika melisankan teks atau mengucapkan dialog, yang perlu diperhatikan adalah: sasaran kalimat. Kepada siapa kalimat itu ditujukan; kepada diri sendiri, lawan main atau penonton, atau kepada Tuhan, pada sesuatu yang jauh. Jika diucapkan untuk diri sendiri, maka proyeksikan-arahkan dialog tersebut ke dada kita, meski tak harus menunduk dan memelototi dada. Jika ke lawan main atau penonton proyeksi vokal atau pandangan akan sejajar, dan jika sedang membayangkan atau berbicara dengan suatu yang jauh arah pandangan dan proyeksi vokal akan ke atas, demikian lazimnya. Maka jika arah pandangan aktor di atas panggung tidak jelas fokusnya, sudah pasti tidak jelas pula sasaran dari kalimat yang diucapkannya (kecuali jika ia sedang memerankan sebagai tokoh yang sedang bingung).

Intinya semakin detail atau spesifik perencanaan akting atau laku yang kita buat, maka akan lebih mudah mengulang dan jelas arah pemeranan kita nantinya.  Tentu akan ada perubahan-perubahan selama latihan, akan selalu ada yang perlu disempurnakan, tapi paling tidak kita memiliki patokan selama latihan. Kita bisa menambahkan dengan membuat diagram emosi, kapan naik dan turun, kapan semakin kompleks, namun karena emosi itu tidak stabil, maka yang paling mungkin dilakukan oleh aktor adalah skoring fisik (tubuh). Skoring fisikal akan lebih mudah terjaga, dan jika skorik fisiknya benar, imajinasi hidup dan konsentrasi bagus, emosi akan mengikutinya.  Skoring ini sekali lagi hanya sebagai rambu-rambu latihan dan pementasan.

Keberadaan sutradara tentu akan lebih mempermudah proses, dapat menambahkan hal-hal tertntu yang dapat mempertajam atau menambah kualitas kita. Namun jika tidak ada, maka kita bisa meminta teman atau rekan di kelompok kita masing-masing, untuk menilai berdasar perencanaan yng sudah kita buat.

Ini salah satu contoh tabel/lembar perencanaan akting, yang bisa dilakukan aktor:

No Adegan/Paragraf Teks/kalimat/dialog Motif-tujuan Asosiasi atau Imajinasi Laku/tindakan fisikal/blocking
           
         

(bersambung….. dan boleh dibantah atau tidak harus disetujui….)
Yang penting harus terus berlatih, berposes dengan sungguh-sungguh.  Salam.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*