Eksitensi Manusia dalam Bingkai Perjuangan dan Teror

Ulasan Pertunjukan Atas Nama Keadilan oleh Teater Neo Bandung

Eksitensi Manusia dalam Bingkai Perjuangan dan Teror
(Ulasan Pertunjukan Atas Nama Keadilan oleh Teater Neo Bandung)
Oleh Alexander GB

Ketika lampu panggung menyala, dua sosok muncul. Satu sosok di tali gantungan, satu lagi si tukang jagalnya. Usai eksekusi,  lampu padam. Ketika menyala, dua orang. Satu tokoh, Boria (Dedi Warsana), berdiri di dekat Jendela, seorang wanita, Dora (Christie Vaam Laloan) duduk di dekat meja.  Meja tempat bom yang baru ia rakit. Lalu masuk tiga orang lainnya: Alexis Voinov (Januar Eka Rahayu), Stevan (Rusli Keleeng), Yanek (Heksa Ramdono).

Konflik sudah dimulai sejak awal, sambutan dingin Stevan pada Yanek, sementara Dora sebaliknya. Terlebih ketika Boria mempercayakan pembawa bom justru pada Yanek dan bukan Stevan.  Stevan tidak percaya Yanek dapat melaksanakan tugasnya.

“Pengeboman, teror, dan kekerasan bukanlah cara yang tepat sebagai pembenaran perjuangan, apa pun alasannya.” Yanek memekikkan kalimat itu, setelah urung mengebom iring-iringan kereta para bangsawan. Sebab, di dalam kereta itu ada anak-anak dan isteri bangsawan. Kegagalan membunuh bangsawan tiran Rusia itu menimbulkan pertentangan di kalangan para teroris. Bagi Stevan yang radikal,  segala cara adalah halal. “Apa gunanya menyelamatkan beberapa anak kecil, sementara nasib ribuan anak kecil lain di luar sana tak jelas juntrungannya karena tiran terlalu lama berkuasa?” ujar Stevan.

Sejak kegagalan itu, , Yanek, dan Stevan terlibat perdebatan sengit mengenai tujuan perjuangan mereka. Itulah yang terbeber dalam naskah Teroris karya Albert Camus.  Naskah yang mencoba mengurai perihal eksistensialisme. Camus sebagai filsuf besar melalui naskah drama itu bukan cuma menghadirkan teroris sebagai sekumpulan manusia tanpa hati. Dia melontarkan berbagai pertanyaan mengenai arti kemanusiaan, tujuan perjuangan, dan cinta. Dan semua itu tersampaikan-dimengerti (understanding) tapi beberapa bagian kurang meyakinkan (believable) .

Kemampuan para aktor menafsirkan naskah yang disutradarai Fathul A Husein pastinya tidak mengalami kendala. Namun eksekusi di atas panggung tentu berbeda, ada beberapa adegan terlalu berlebihan atau terlalu teatrikal. Seolah mereka cenderung mengabaikan kewajaran sebagai salah satu kekuatan akting. Terlebih bagi mereka tentu bukan masalah untuk memahami teks ini, yang sedari awal bukan hendak mengumbar aksi heroik para teroris; bom dan tembak menembak, tetapi lebih pada konflik psikologis, gugatan tentang kemanusiaan dari tokoh-tokohnya. Saya membayangkan pertunjukan ini laiknya The Hurt Locker yang disutradarai Kathryn Bigelow, Sicario arahan sutradara Denis Villeneuve, atau  Reservoir Dogs-nya Quentin Tarantino.

 

IMG_20170726_194138

 

Usai menonton Atas Nama Keadilan atawa Teroris karya Albert Camus oleh Teater Neo membuat saya menengok kembali kenapa Stanislavsky menciptakan The Sistem? Karena kebanyakan aktor yang berakting pada masanya telah bertindak secara tidak natural di atas panggung. Karena sudah terlalu sering berperan (bermain), akting menjadi sesuatu yang rutin dan membosankan; pola-pola atau bentuk gesture yang telah menjadi rutin, pola dari gerakan atau gaya berbicara yang melenceng dari kebenaran perilaku sejati manusia–dan terlanjur telah jadi anggapan masyarakat tentang aktor atau teater. Tak ada  lagi proses sekaligus tantangan kreatif saat mereka berhadapan dengan karakter baru dari naskah baru yang akan mereka mainkan. Akting menjadi sebentuk kebiasaan. Cara berjalan, bergerak, gaya dan cara berbicara, melihat, terlah menjadi satu paket yang tetap dan karena itu klise.  Proses karakterisasi tokoh hanya berhasil menyentuh sebagian kecil kehidupan karakter.

Menurut Stanilavsky, kebenaran akting kebenaran akting seorang aktor diukur dari kadar seberapa wajar ia mampu memerankan tokoh atau karakternya. Wajar di sini berarti bahwa aktingnya tidak bertentangan dengan tata tingkah laku seorang manusia seorang manusia biasa dalam pergaulan sehari-hari; kewajaran dalam berbicara, kewajaran dalam bergerak, kewajaran dalam bergerak, kewajaeran dalam merespon lawan main, kewajaran dalam mengolah dan mengekspresikan emosi, kewajaran dalam mengelola konflik, dan lain sebagainya.  “Ketidaksejatian yang dipaksakan dan konvensional tersirat dalam pergelaran panggung, dalam kengototan penyajian tindakan dan kata-kata yang telah ditentukan penulis lakon, dalam dekor yang dirancang pelukis, produksi yang dirancang sutradara, dalam rasa malu dan demam kita, dalam selera rendah dan tradisi palsu yang membuat diri kita kejang kikuk. Semua ini memaksa aktor menjurus pada eksibisionisme, representasi yang tidak tulus … (Stanislavski. Membangung Tokoh. Hal 358.)

Tentu Akting dan Stanislavski sudah begitu mereka pahami.  Namun paham bukan berarti bisa, dan paham atau bisa bukan berarti ahli. Maka saya mencoba mengulasnya, dari kacamata keaktoran saja, bahwa aktor-aktor Teater Neo, yang sudah terlibat di banyak produksi teater merasa nyaman dan kurang atau kehilangan kewaspadaan akan peran dan aktingnya. Akibatnya mereka sedikit sembrono dalam mengeksekusi (berakting) di atas panggung. Tokoh Yanek terlalu banyak berteriak, demikian juga tokoh-tokoh lainnya. pertunjukan jadi bising oleh suara-suara teriakan, dan ini mengandung resiko konflik psikologi tokohnya menjadi tenggelam. Penyebab lain (ini masih dugaan saya, bisa benar dan bisa juga salah) aktor-aktor Teater Neo terlalu banyak mementaskan lakon-lakon dari jaman klasik, yang grand style, sehingga ketika dituntut untuk bermain wajar, jadi kerepotan. Tubuh dan suara mereka seperti terkunci, gesture-gesture makro dan suara yang keras.

Tetapi bagaimana mau bersikap, berlaku, atau berakting wajar, jika jarak teks dengan para pemain terlalu jauh. Teks kemudian seperti tidak menemukan konteksnya. Subtex tenggelam, super objektif menghilang oleh pola akting yang seolah hanya mengumbar kemarahan dan tangis. Transisi-transisi perubahan emosi ketika pengeboman pertama gagal, dilema Yanek mengetahui Si Bangsawan yang dicintai kaum petani, Dora yang terombang ambing antara cinta dan perjuangan, Stevan yang terjebak pada dendam pribadi, belum lagi tokoh-tokoh lain Boria, Voinov, Skouratov, Isteri bangsawan yang mencoba tetap tenang ketika berhadapan dengan Yanek dan bahkan menawarkan kebebasan, Faka, dan Penjaga yang mestinya menjadi daya pukau pertunjukan ini, terlepas dari persoalan casting dan setting.

Kita bisa bermain baik atau buruk; tetapi yang paling penting adalah supaya kita bisa bermain benar dan jujur (Stanislavski. Memangun Tokoh. Hal 25)

IMG_20170724_161832

Teater Neo, Bandung
Festival Wahyu Sihombing,
Teater Luwes Jakarta, Rabu, 26 Juli 2017

Judul : Atas Nama Keadilan
karya : Albert Camus
sutradara : Fathul A Husein

Pemain
Boris Boria Annenkov : Dedi Warsana
Stepan Fedorov : Rusli Keleeng
Ivan Yanek Kaliayev : Heksa Ramdono
Dora Doublebov : Christie Vaam Laloan
Alexis Voinov : Januar Eka Rahayu
Skouratov : Joko Kurnain
Wanita Bangsawan : Yani Mae
Faka : Rusman Nurdin
Penjaga : Muhammad Yusuf

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*