Ulasan Pementasan Hedda Gabler versi Saturday Acting Club (2-habis)

Pementasan Hedda Gabler oleh Saturday Acting Club (SAC) Yogyakarta pada Festival Wahyu Sihombing, di Teater Luwes IKJ, (29/7)

Adegan selanjutnya, Nyonya Elvsted menunggu Eilert Lovborg, Hedda yang terbangun meminta Nyonya Elvsted tidur di kamarnya. Sementara melanjutkan tidur Hedda tertidur di sofa dan terbangun begitu Tesman tiba dan mengatakan kepada istrinya bahwa dia memiliki manuskrip hebat Lovborg dan berencana untuk mengembalikannya, namun tertunda lantaran menerima kabar Bibi Rina sedang sekarat. Hedda menyimpan manuskrip Lovborg.  Hakim Brack berkunjung ke rumah Tesma, lalu Eilert Lovborg. Nyonya  Elvsted terbangun dan terpukul begitu mengetahui manuskrip Lovborg hilang. Nyonya Elvsted pergi hatinya hancur. Lovborg yang putus asa ingin bunuh diri. Hedda lantas memberi lelaki itu pistol dan mendorong tentang kematian yang indah. Selepas Lovborg pergi, Hedda yang terbakar cemburu, terlebih usai mendengar manuskrip tersebut sebagai anak dari Lovbord dan Nyonya Elvsted, membakarnya.

Tesman sangat marah begitu mengetahui bahwa Hedda membakar manuskrip Lovborg. Nyonya Elvsted kembali datang, melaporkan bahwa Lovborg di rumah sakit. Brack datang dan membenarkan hal ini namun melaporkan kepada Hedda bahwa sebenarnya Lovborg sudah meninggal. Tesman dan Nyonya Elvsted mencoba merekonstruksi manuskrip Lovborg yang terbakar, untuk menghormati kematian lelaki itu berdasarkan catatan yang disimpan Nynyoa Elvsted. Secara pribadi, Brack mengatakan kepada Hedda bahwa itu benar-benar kematian yang buruk, bahwa pistol itu meledak secara tidak sengaja, dan Hedda sebagai pemilik pistol bisa menjadi tersangka. Hedda tersudut, meninggalkan ruangan, bermain piano beberapa saat, menembak dirinya sendiri.

Tuntutan bermain wajar pada teater bergenre realis, terkadang mengandung resiko, salah satunya dinamika atau perubahan secara radikal sulit terjadi. Meski perkembangan watak dari masing-masing tokoh mestinya tetap nyata. Oleh SAC Hedda dihadirkan sebagai sosok angkuh untuk menyembunyikan kerapuhannya, sekaligus sebagai sosok yang mencoba menolak posisi perempuan dalam budaya patriarki, menolak selalu bersikap lembut, cukup tergambarkan. Hanya saja pemeran Hedda seperti terjebak pada karakter yang sinis sepanjang pertunjukan. Sementara Tesman dari awal hingga akhir juga terjebak memainkan satu atau dua karakter yang terlalu peduli dengan karir intelektualnya dan seperti suami yang takut isteri.  Sosok Lovborg saya rasa kurang flamboyan. Sementara Hakim Brack data-datar saja. Trik dan intriknya sebagai tokoh yang licik, yang diam-diam menaruh hati pada Hedda kurang jelas tergambar.

Kehancuran Hedda saat mendengar Nyonya Elvsted mengatakan manuskrip itu sebagai anaknya dengan Lovborg, melihat suaminya (Tesman) justru memilih merekonstruksi karya Lovborg, dan ancaman dari Hakim Brack, belum benar-benar terlihat, sehingga alasan Hedda menembak dirinya, terasa kurang kuat. Demikian halnya dengan perubahan Tesman saat mendengar manuskrip Lovborg terbakar, dan pada adegan selanjunya memutuskan untuk merekonstruksi karya Lovborg bersama Nyonya Elvsted pun seperti tiba-tiba saja, seolah keputusannya itu datangnya tiba-tiba dan bukan sebagai satu bentuk balas dendam pada sikap Hedda.

Barangkali kurang gregetnya pementasan Hedda Gabler versi SAC menyebabkan 80 persen penonton memilih meninggalkan gedung pertunjukan sebelum pementasan selesai. Meski mungkin juga disebabkan alasan lainnya. Mungkin ada benarnya pendapat Ari Pahala Hutabarat bahwa adaptasi adalah tindakan yang wajib dilakukan saat mementaskan teks-teks realisme di pangung teater. Sebab jika tak dilakukan, maka akan muncul banyak ke-wagu-an2, ke-takpantas-an. Jarak yang membentang antara aktor kita dengan  ‘teks asal’ terlampau jauh, mulai dari jarak sosiokultur, waktu, sampai ke, ini yg paling penting, jarak biologis. Segala upaya aktor untuk “menjelma jadi…” seperti yang diharap Stanislavski akan gagal sejak awal, karena bertentangan dengan prinsip dasar, bahwa subjek adalah konstruk dari lingkungannya, seperti yang dijelaskan banyak dan panjang lebar oleh, mulai dari Marx, Freud, Pavlov, sampai ke kaum strukturalis, psotstrukl, dll. Dan adaptasi niscaya merupakan tindakan pertama untuk memutus jarak-jarak tersebut–dengan menyediakan konteks, wadah struktur, lingkungan sosoi-ekonomi-kultur bagi subjek.     Dan karena alasan ini pula, Iswadi Pratama, yang pada sesi diskusi menyoal urgensi subteks bagi pemeranan gagal terwujud pada pementasan ini, sehingga dinamika pertunjukan kurang terlihat, monoton. Subtek sebagai gerak bathin peran kurang sampai pada penonton.

Artinya banyak laku fisikal yang tidak dilambari subtek (laku bathin) yang tepat, atau barangkali sudah tepat hanya takarannya yang kurang pas, sehingga indahnya pertunjukan realis kurang dinikmati penontonnya.  Namun, saya masih beranggapan karena akustik gedung yang kurang bagus, ruang pertunjukan kurang intim, sehingga perubahan gerak tokoh, baik secara fisikal maupun bathinnya kurang tertangkap dengan jelas.

***

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*